IHSG Berpotensi Turun ke 6.015, Analis Rekomendasikan BMRI hingga PTBA

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Selasa, 29 September 2026 | 08:22:01 WIB
Pergerakan IHSG dipantau pada perdagangan Selasa (29/9) setelah berpotensi turun ke level 6.015–6.029.

SULAWESI SELATAN — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan penurunan ke level 6.015–6.029 pada perdagangan Selasa (29/9), setelah menembus batas bawah 6.159 sehari sebelumnya. Pelemahan indeks dipicu momentum bearish indikator MACD serta tekanan eksternal dari kebijakan The Fed dan kenaikan harga minyak. Analis pun merekomendasikan sejumlah saham, mulai dari BMRI, INCO, hingga PTBA, untuk mencermati pergerakan pasar.

Analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova menilai IHSG akan bergerak turun ke rentang 6.015–6.029 setelah penembusan level 6.159 yang terjadi pada Senin. Probabilitas skenario biru pada chart meningkat apabila indeks masih tertekan hingga di bawah 6.015.

"Indikator MACD menunjukkan adanya momentum bearish," tulis Ivan dalam risetnya, dikutip Selasa (29/9).

Level support IHSG berada di 6.015, 5.850, dan 5.607. Sementara itu, level resistance berada di 6.258, 6.423, 6.552, dan 6.712.

Rekomendasi Saham dari Dua Sekuritas

Ivan merekomendasikan lima saham untuk dicermati, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indah Kiat Pulp Paper Tbk (INKP), dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).

Dari sisi lain, Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG secara teknikal masih berpotensi melanjutkan koreksi setelah menembus neckline pola Head and Shoulders di level 6.375. MACD juga masih menunjukkan momentum bearish, dengan support terdekat di 6.110 dan 6.030, sedangkan resistance di 6.185 serta area 6.230–6.270.

BRI Danareksa merekomendasikan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Fokus Pasar: Kebijakan Batas Harga Rp 1 dan Sentimen Global

Perhatian pasar hari ini tertuju pada fase adaptasi kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menurunkan batas harga minimum saham menjadi Rp 1. Perubahan ini berpotensi meningkatkan volatilitas, terutama pada saham berharga rendah, seiring penyesuaian rentang harga dan mekanisme auto rejection.

Tekanan dari eksternal masih berasal dari ekspektasi kebijakan The Fed yang hawkish, penguatan indeks dolar (DXY) di atas 101, serta kenaikan harga minyak akibat ketegangan AS–Iran yang memperbesar risiko inflasi global.

Pergerakan IHSG selanjutnya akan mencermati kemampuan indeks bertahan di area support serta perkembangan volatilitas selama fase adaptasi kebijakan BEI. Bagi investor, dua rekomendasi dari BinaArtha dan BRI Danareksa bisa menjadi acuan dalam menyusun strategi jangka pendek di tengah tekanan pasar yang masih berlanjut.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top