SELANGOR — Kunjungan kerja Kepala BPOM RI Taruna Ikrar ke Sunway University menjadi langkah diplomasi kesehatan yang menyasar penguatan posisi Indonesia di kancah global. Dalam forum Inaugural Malaysia Microbiome Meeting (MMM) 2026, ia menekankan kedekatan sejarah, budaya, ekonomi, dan ilmu pengetahuan antara Indonesia dan Malaysia sebagai fondasi kerja sama.
Menurut Taruna, kedekatan itu membuka peluang besar untuk memperdalam kerja sama microbiome science dan regulatory science, khususnya dalam konteks ASEAN dan Asia-Pasifik.
"Indonesia dan Malaysia memiliki kedekatan sejarah, budaya, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kondisi ini membuka peluang besar untuk memperdalam kerja sama microbiome science dan regulatory science, khususnya dalam konteks ASEAN dan Asia-Pasifik," tegas Taruna Ikrar.
Ilmu hayati modern menempatkan mikrobioma sebagai salah satu bidang paling menjanjikan. Kajian ini mengubah cara pandang peneliti terhadap kesehatan manusia.
Riset ilmiah tidak lagi berfokus pada sel dan organ tubuh semata, melainkan meneliti interaksi kompleks antara tubuh manusia dengan triliunan mikroorganisme. Perkembangan riset mikrobioma membuka jalan baru dalam menangani penyakit infeksi, gangguan metabolik, masalah gastrointestinal, penyakit sistem imun, hingga onkologi.
Data Grand View Research memperkuat proyeksi tersebut. Pasar global terapi berbasis mikrobioma bakal mencapai US$255,1 juta pada tahun 2026 dan berpotensi melonjak hingga menembus US$1,06 miliar pada 2030. Lonjakan angka ini mencerminkan tingginya investasi serta pesatnya kolaborasi riset di tingkat internasional.
Taruna mengingatkan bahwa inovasi ilmiah wajib berjalan berdampingan dengan penguatan ilmu regulasi. Regulator harus memastikan setiap produk berbasis mikrobioma memiliki bukti ilmiah yang kuat, mulai dari identitas, kemurnian, potensi, stabilitas, keamanan, hingga efektivitas klinisnya.
"Regulatory science harus berkembang sejalan dengan inovasi ilmiah. Hasilnya, regulator mampu melindungi masyarakat dan menjaga mutu produk, sekaligus menciptakan iklim inovasi yang bertanggung jawab," tambahnya.
Lawatan ke Sunway University juga memperkokoh penerapan konsep ABG (Academic, Business, and Government) yang terus diusung BPOM. Konsep ini menyatukan tiga kekuatan utama:
Taruna menegaskan pengembangan mikrobioma membutuhkan ekosistem ABG secara nyata. Temuan laboratorium dari kampus harus menemukan jalan menuju industri komersial. Regulator wajib hadir sejak awal untuk memastikan produk memenuhi standar mutu dan khasiat.
"Inovasi tidak boleh berhenti di dalam laboratorium. Melalui konsep ABG, ilmu pengetahuan harus bertemu dengan industri dan regulasi. Dengan demikian, hasil riset dapat berubah menjadi produk nyata yang aman, bermutu, serta berdaya saing bagi masyarakat," jelas Taruna.
Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Indonesia dan Malaysia dapat meluncurkan program riset bersama, pertukaran ilmuwan, peningkatan kapasitas SDM, serta sinkronisasi standar regulasi. Taruna juga mengajak generasi muda, mahasiswa, dan peneliti milenial untuk mengambil peran aktif dalam pengembangan ilmu mikrobioma.
Kepala BPOM menyambut hangat kehadiran Sunway Microbiome Centre di bawah pimpinan Prof. Low Teck Yew. Ia menilai pusat riset tersebut sebagai tonggak penting bagi ekosistem sains di kawasan ASEAN.
Dalam kunjungan ini, sejumlah pejabat mendampingi Taruna Ikrar, antara lain Direktur Registrasi Obat BPOM RI Tri Asti Isnariani, Kepala Bagian Rumah Tangga BPOM RI Ardiansyah, dan Staf Khusus Kepala BPOM RI Wachyudi Muchsin. Turut hadir pula Ketua Dharma Wanita Persatuan BPOM RI, Elfi Ikrar.
"Tidak ada satu institusi atau negara yang sanggup membangun ekosistem mikrobioma secara mandiri. Maka dari itu, kolaborasi harus menjadi fondasi utama agar kemajuan ilmu pengetahuan memberi manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat," pungkasnya.