Kejar Pertumbuhan 8%, Indonesia Butuh Investasi Rp13.000 Triliun dalam Lima Tahun

Penulis: Jauhari Lubis  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 08:21:31 WIB
Menteri Investasi Rosan Roeslani berbicara dalam Indonesia Sustainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

SULAWESI SELATAN — Indonesia memerlukan investasi lebih dari Rp13.000 triliun dalam lima tahun untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8% yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto. Kebutuhan itu lebih besar daripada total investasi yang berhasil dihimpun selama satu dekade sebelumnya jika digabungkan. Pemerintah mengarahkan modal ke hilirisasi, elektrifikasi, dan energi bersih sebagai mesin utama pertumbuhan.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyampaikan angka tersebut dalam Indonesia Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Selasa (6/10/2026). Menurut Rosan, besarnya kebutuhan modal menunjukkan skala tantangan pembiayaan yang harus dijawab Indonesia dalam lima tahun ke depan.

"Untuk mencapai target tersebut, kita membutuhkan investasi lebih dari Rp13.000 triliun dalam lima tahun, atau lebih besar daripada investasi yang berhasil kita tarik selama 10 tahun sebelumnya jika digabungkan," ujar Rosan.

Realisasi Investasi 2025 Tembus US$120 Miliar

Fondasi pertumbuhan investasi sebenarnya sudah terlihat. Sepanjang 2025, realisasi investasi Indonesia menembus lebih dari US$120 miliar, tumbuh 12,7% secara tahunan, dan menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja.

Momentum berlanjut pada semester pertama 2026. Realisasi investasi mencapai US$61 miliar atau tumbuh 7,2% secara tahunan, dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 1,45 juta orang.

Hilirisasi menjadi salah satu penyumbang terbesar. Industri ini menyumbang sekitar 30% dari total investasi nasional dan terus berkembang dengan dukungan investor domestik maupun internasional.

"Hilirisasi tetap menjadi salah satu pilar utama strategi ekonomi kita," kata Rosan.

Ekosistem Baterai dan Kendaraan Listrik Mulai Beroperasi

Di sektor elektrifikasi, Indonesia mulai memperkuat rantai pasok kendaraan listrik dan baterai. Dua pabrik sel baterai besar yang bekerja sama dengan Hyundai serta CATL dan IBC mulai beroperasi secara bertahap pada Agustus 2026.

Penetrasi kendaraan listrik di pasar domestik juga meningkat. Satu dari setiap enam mobil baru yang terjual di Indonesia merupakan kendaraan listrik sepenuhnya, dan lebih dari dua pertiga di antaranya telah dirakit di dalam negeri.

Perkembangan itu menunjukkan investasi tidak hanya menambah kapasitas produksi, tetapi juga memperkuat rantai pasok industri di dalam negeri.

Potensi Energi Terbarukan 3.700 GW Baru Terpakai 15,4 GW

Pemerintah melihat energi bersih sebagai ladang investasi besar berikutnya. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan hampir 3.700 gigawatt (GW), tetapi kapasitas yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 15,4 GW atau kurang dari 1% dari total potensi.

Untuk mempercepat pemanfaatan, pemerintah mendorong pengembangan tenaga surya berkapasitas hingga 100 GW. Program itu telah diluncurkan Presiden Prabowo pada Agustus 2026.

Di sisi bahan bakar nabati, Indonesia menerapkan campuran biodiesel B50 sejak Juli 2026, tingkat mandatori tertinggi di dunia. Rosan menyebut B50 telah tersedia di 94% stasiun pengisian bahan bakar Pertamina dalam dua bulan setelah penerapannya.

Pemerintah juga menyiapkan campuran etanol 5% pada bensin nonsubsidi di Pulau Jawa serta kewajiban penggunaan sustainable aviation fuel mulai 2027.

Ketua Kadin: Transisi Energi Sudah Jadi Agenda Ketahanan Ekonomi

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menilai agenda keberlanjutan tidak lagi semata persoalan lingkungan. Menurutnya, fluktuasi harga energi global dapat meningkatkan risiko terhadap perekonomian nasional karena kebutuhan minyak dalam negeri jauh melampaui produksi domestik.

Anindya menyebut harga minyak dunia pada 2026 bergerak dari sekitar US$65 per barel menjadi US$110 per barel. Konsumsi minyak Indonesia mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 600.000 barel per hari.

"Agenda keberlanjutan bukan hanya mengenai iklim, tetapi juga merupakan agenda ketahanan ekonomi bagi Indonesia," ujar Anindya.

Peluang Ekonomi Hijau US$3,8 Triliun

Kebutuhan investasi jumbo itu beriringan dengan peluang yang terbuka dari ekonomi hijau. Anindya menyebut investasi global dalam transisi energi mencapai rekor US$2,3 triliun pada 2025.

Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi Indonesia untuk menarik modal asing sekaligus mempercepat elektrifikasi, meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan, dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.

Reporter: Jauhari Lubis
Sumber: waspada.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top