SULAWESI SELATAN — Amazon menyimpan halaman "About you" yang berisi asumsi soal pembeli berdasarkan riwayat transaksi, mulai dari minat fotografi hingga bentuk tubuh. Satu pengguna Threads menemukan Amazon menilai dirinya "has flat buttocks" dan curhatannya tembus lebih dari sejuta views dalam kurang dari sehari. Halaman ini bisa diakses lewat desktop maupun aplikasi mobile, dan datanya bisa diedit pengguna.
Amazon membuka akses ke halaman yang memperlihatkan asumsi apa saja yang dibuat perusahaan terhadap pembeli. Halaman bertajuk "About you" ini disusun dari kebiasaan belanja, kategori produk yang sering dibeli, sampai preferensi yang tidak pernah diisi langsung oleh pengguna.
Seorang pengguna Threads dengan akun @fangirlinmegan menemukan halaman tersebut dan kaget dengan isinya. Selain asumsi umum seperti "Shops from women's departments" dan "Probably owns a Shark robot vacuum", Amazon menulis bahwa dirinya "has flat buttocks".
"I stumbled upon a page of assumptions that Amazon has made about me based on my purchases and I'm literally speechless," tulisnya di Threads. "I mean it ain't wrong but damn did you have to call me out like that?"
Unggahan itu mengumpulkan lebih dari sejuta views dalam waktu kurang dari sehari. Banyak pengguna yang kemudian penasaran dan mencari tahu asumsi apa yang disimpan Amazon tentang mereka.
Halaman ini tidak hanya berisi asumsi. Amazon juga menampilkan data yang memang diisi sendiri oleh pengguna, seperti ukuran sepatu, minat, dan preferensi makanan.
Di bagian bawah halaman, ada opsi bertaut biru bertuliskan "Manage your information". Saat diklik, pengguna bisa melihat daftar lengkap asumsi yang dibuat Amazon berdasarkan riwayat belanja mereka.
Seorang jurnalis yang mencoba fitur ini menemukan Amazon menilai dirinya "practices photography", "plays collectible card games", dan "invested in the Apple ecosystem". Ketiganya benar. Amazon juga menulis bahwa dirinya "read diverse non-fiction".
Rekan-rekan jurnalis tersebut menemukan asumsi lain yang tidak kalah spesifik. Ada yang tercatat menyukai piringan vinyl dan keramik, ada pula yang dinilai punya selera dekorasi rumah berbahan alami serta pakaian yang "prioritizes comfort".
Halaman ini bisa diakses lewat dua jalur, tergantung perangkat yang dipakai.
Di desktop, arahkan kursor ke tulisan "Hello, [nama Anda]" di pojok kanan atas. Klik "Account" di bagian "Your Account", lalu pilih "Your Shopping preferences" di bawah seksi "Ordering and shopping preferences". Setelah halaman terbuka, gulir ke bawah dan klik opsi "Manage your information".
Di aplikasi mobile, buka ikon menu (hamburger) di bilah bawah, lalu masuk ke Account > Shopping preferences > About you. Daftar asumsi yang sama akan muncul di layar ponsel.
Amazon memang lama memakai riwayat transaksi untuk mempersonalisasi pengalaman belanja. Beli banyak pasir kucing, Amazon menyimpulkan pengguna punya kucing. Beli produk perawatan jerawat berulang, Amazon menebak pengguna rentan berjerawat.
Yang membuat halaman ini mengejutkan bukan sekadar keberadaan data tersebut, melainkan cara penyajiannya. Semua asumsi ditampilkan dalam satu daftar rapi, termasuk yang sifatnya intim dan tidak pernah dibicarakan pengguna ke platform mana pun.
Pengguna Threads yang viral itu menduga asumsi "has flat buttocks" muncul karena dirinya pernah membeli "butt scrunch leggings". Ia tidak mempermasalahkan akurasi asumsinya, hanya cara Amazon menuliskannya.
Halaman "About you" sebenarnya memberi ruang bagi pengguna untuk mengoreksi data. Pengguna bisa menambahkan informasi sendiri atau menyesuaikan asumsi yang dirasa tidak tepat.
Praktik pengumpulan data semacam ini lazim di platform e-commerce global. Yang berbeda adalah tingkat transparansinya. Amazon memilih menampilkan asumsi tersebut ke pengguna, alih-alih menyimpannya di balik sistem rekomendasi internal.
Bagi pengguna di Indonesia, halaman ini juga bisa diakses selama akun Amazon aktif, meski ketersediaan fitur bisa berbeda tergantung region dan versi aplikasi. Pengguna yang ingin memeriksa datanya disarankan memakai versi terbaru aplikasi Amazon di Android atau iOS.
Bagi pelaku bisnis digital, kasus ini jadi pengingat bahwa personalisasi berbasis data transaksi punya batas etis. Asumsi yang terlalu spesifik, terutama soal tubuh atau kondisi personal, berisiko memicu reaksi negatif meski secara teknis akurat.
Amazon belum memberi pernyataan resmi soal viralnya halaman ini. Perusahaan juga belum mengonfirmasi apakah akan mengubah cara penyajian asumsi ke pengguna di waktu mendatang.