SULAWESI SELATAN — Kieran McKenna mengungkap alasan meninggalkan Ipswich Town saat klub berada di puncak kejayaan. Pelatih berusia 40 tahun itu menyebut keputusan tersebut diambil demi menikmati waktu bersama keluarga sekaligus menyiapkan langkah karier selanjutnya.
Keputusan McKenna meninggalkan Portman Road diumumkan pada Juni, tak lama setelah Ipswich memastikan promosi ke Premier League. Ia mengaku sudah mempertimbangkan kemungkinan tersebut sejak pertengahan musim, namun baru benar-benar yakin saat berdiri di tengah lapangan usai laga melawan QPR.
“Saat berdiri di sana, saya merasa ini mungkin waktunya,” ujar McKenna mengenang momen tersebut. “Kemenangan besar lagi, stadion penuh, di depan keluarga dan para penggemar. Itu cara yang luar biasa untuk pergi di puncak.”
McKenna menutup perjalanannya di Ipswich dengan promosi ketiga dalam lima tahun, sebuah pencapaian yang mengangkat namanya sebagai salah satu pelatih muda paling dicari di Inggris. Ia mengakui sempat beberapa kali mendapat tawaran hengkang, namun selalu menolak karena ingin pergi dengan cara yang tepat.
“Saya punya banyak kesempatan untuk pergi, bisa saja pergi dalam berbagai situasi,” katanya. “Tapi saya selalu sadar ingin meninggalkan klub dengan cara terbaik, saat klub sedang di puncak, kembali ke Premier League, dan punya peluang besar untuk membangun periode yang sukses.”
Keputusan mengambil jeda karier secara sukarela di usia 40 tahun dianggap sulit dipahami banyak orang. McKenna sudah dua dekade berkecimpung di dunia kepelatihan, dan kini memilih menikmati hal-hal sederhana bersama orang terdekat.
Anaknya baru-baru ini tertarik pada golf, dan McKenna menghabiskan sebagian musim panas berkeliling garis pantai East Anglia bersama keluarga menggunakan camper van. Baginya, momen-momen seperti itu menjadi alasan utama untuk menghentikan karier yang sedang menanjak.
“Bagi orang di luar mungkin agak sulit dipahami,” ujarnya. “Tapi mereka yang tahu perjalanan dan nilai-nilai saya, orang-orang terdekat yang benar-benar mengenal saya, saya pikir mereka mengerti kenapa saya ingin keluar dan apa manfaat dari periode seperti ini.”
Sejak awal September, McKenna mulai kembali menyentuh dunia sepak bola. Ia mengikuti proses menonton dan menilai pertandingan, sekaligus mengunjungi Bayern Munich, tim rugby Wigan Warriors, dan Colorado Rapids yang dilatih sahabatnya, Matt Wells.
Ia juga memperdalam kemampuan bahasa asing dengan mengasah bahasa Spanyol. Pekan ini McKenna mengunjungi sejumlah klub di Spanyol, dan pekan depan ia mulai bekerja sebagai pengamat teknis UEFA saat Shakhtar Donetsk menghadapi AEK Athena di Stamford Bridge.
“Saya ingin memberi diri saya kemungkinan terbaik untuk belajar sebelum mengambil tantangan berikutnya,” katanya.
Telepon McKenna sudah berdering dengan tawaran untuk langkah berikutnya, namun ia menilai semua itu datang terlalu cepat. Ia tak ingin terburu-buru kembali ke kursi pelatih setelah meninggalkan Ipswich dengan cara yang jarang dialami banyak pelatih.
“Saya jelas tidak terburu-buru,” tegasnya. “Saya menikmati waktu yang saya miliki dan semoga datang peluang yang tepat. Saya punya gambaran bagaimana rasanya, tapi sepak bola tidak selalu mengikuti rencana Anda.”
McKenna juga menyinggung musim terakhirnya di Ipswich sebagai yang tersulit dari empat setengah tahun masa baktinya. Tekanan meningkat setelah Ipswich terdegradasi dan diharapkan langsung bangkit, sementara sejumlah pemain inti yang mengantar klub naik divisi satu per satu mulai pergi.
“Kami punya perasaan internal bahwa jika tidak bekerja sangat keras menyatukan semua orang, semuanya bisa berjalan ke arah negatif,” ujarnya. Ia pun menyebut momen tersulit di hari terakhirnya adalah saat harus menyampaikan pidato perpisahan selama lima menit di depan kamera kepada para pendukung Ipswich.