Agrinas Palma Garap Sawit dan Singkong demi Swasembada Energi

Penulis: Fauzan Arifin  •  Jumat, 09 Oktober 2026 | 15:52:01 WIB
PT Agrinas Palma Nusantara mengembangkan kebun sawit dan singkong untuk bahan baku biofuel dan bioetanol.

SULAWESI SELATAN — PT Agrinas Palma Nusantara mengembangkan kebun sawit dan singkong untuk bahan baku biofuel dan bioetanol guna mendukung swasembada energi nasional. Perusahaan pelat merah hasil transformasi PT Indra Karya itu mengantongi mandat mengelola 4,1 juta hektare lahan dari Satgas Penertiban Kawasan Hutan. Produksi tandan buah segar sawit per Agustus 2026 sudah melonjak 190 persen menjadi 2,08 juta ton.

Direktur Utama APN Mohammad Abdul Ghani mengatakan pihaknya mereset ulang bisnis perusahaan dari nol setelah dirinya diangkat pada Maret 2026. Penugasan pemerintah mencakup pengembangan sejumlah komoditas pertanian untuk ketahanan pangan dan energi.

Ghani menyampaikan hal itu di Jakarta didampingi Direktur Kepatuhan & Keberlanjutan Nofil Anoverta, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Sucipto Prayitno, Direktur Operasional Tuhu Bangun, Direktur Konsultan Konstruksi Gagah Guntur Aribowo, dan Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan Bambang Agustian.

Mandat 4,1 Juta Hektare dan Target Kebun

Sesuai Inpres No 2/2026, APN mendapat mandat mengelola 4,1 juta hektare lahan hasil penertiban Satgas PKH. Dari lahan itu, perusahaan menargetkan pembangunan kebun sawit 400.000 hektare dan perkebunan singkong 300.000 hektare.

APN juga berencana mereaktivasi pabrik biodiesel berkapasitas 600.000 ton per tahun serta membangun dua pabrik bioetanol. Perusahaan menyiapkan kebun jagung 250.000 hektare dan kedelai 400.000 hektare.

Untuk mempercepat transformasi, APN memetakan aset lewat pemetaan udara, mengoptimalkan penjualan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) melalui mekanisme tender, dan mendigitalisasi kegiatan pertanian. Sejak Juli 2026, perusahaan menerapkan digital farming untuk mencatat produksi dan pengadaan barang secara elektronik.

Produksi TBS Melonjak 190 Persen

Hasilnya terlihat pada produksi tandan buah segar (TBS) sawit yang mencapai 2,08 juta ton per Agustus 2026, naik 190 persen year on year. Produktivitas TBS menyentuh 4,65 ton per hektare atau tumbuh 124 persen yoy.

Dari sisi keuangan hingga Agustus 2026, pendapatan APN mencapai Rp3,55 triliun atau tumbuh 185 persen secara tahunan. Laba bersih menembus Rp1,63 triliun, meningkat 123 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

"Pendapatan perusahaan sampai akhir tahun bisa mencapai kisaran Rp5 triliun," ujar Ghani.

Singkong Jadi Andalan Bioetanol

Untuk pengembangan bioetanol terintegrasi, APN memilih singkong sebagai bahan baku paling potensial. Menurut Ghani, singkong punya produktivitas relatif tinggi, tingkat kompetisi pangan lebih rendah, dan adaptif terhadap berbagai kondisi lahan.

Pengembangan bioetanol terintegrasi ditargetkan memakai lahan hingga 1 juta hektare dengan potensi produksi 5 juta kiloliter per tahun. Program itu diproyeksikan menciptakan 1,1 juta lapangan kerja dan menghemat devisa hingga Rp93 triliun.

APN mendorong model kemitraan dengan petani dan koperasi lewat konsep single management untuk pengelolaan sawit rakyat. Skema bagi hasil, peremajaan sawit rakyat, dan penanaman baru disiapkan agar kesejahteraan petani ikut naik.

Perusahaan juga menerapkan Integrated Procurement System (IPS) untuk menjamin akuntabilitas dan kredibilitas pengadaan. Langkah itu melengkapi penguatan tata kelola perusahaan di tengah ekspansi besar-besaran APN.

Bagi industri energi dalam negeri, gebrakan APN menambah pemain baru di rantai pasok bahan baku bioenergi. Jika target kebun dan pabrik terealisasi, ketergantungan Indonesia pada impor bahan bakar fosil berpeluang ditekan bertahap.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top