Kualitas Udara Makassar dan Parepare Masuk Kategori Tidak Sehat, 2.000 Warga Parepare Kena ISPA

Penulis: Ginanjar Raharjo  •  Minggu, 11 Oktober 2026 | 08:18:01 WIB
Konsentrasi PM2.5 di Stasiun Klimatologi Maros tercatat 85,3 mikrogram per meter kubik sehingga kualitas udara Makassar dan sekitarnya masuk kategori tidak sehat.

MAKASSAR — Konsentrasi partikel pencemar udara berukuran sangat kecil atau PM2.5 di Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan, Maros, menyentuh angka 85,3 mikrogram per meter kubik. Nilai itu menempatkan kualitas udara Makassar dan sekitarnya dalam kategori tidak sehat.

Kepala BPBD Makassar M Fadli Tahar menyebut angka tersebut bersumber dari dokumen resmi BMKG yang diperbarui pukul 10.45 Wita. "Paparan polusi partikulat dapat menyebabkan iritasi mata dan tenggorokan, batuk, serta memperburuk gangguan pernapasan," kata Fadli dalam keterangannya.

Kelompok yang paling rentan terdampak meliputi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga dengan riwayat asma, penyakit paru, atau gangguan jantung.

Pemicu Utama: Karhutla di Empat Kabupaten Sulsel

Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar Rizky Yuda menjelaskan penurunan kualitas udara mulai terdeteksi sejak 30 September 2026. Peningkatan konsentrasi PM2.5 membuat udara tampak kelabu dan berkabut di wilayah Maros dan sekitarnya, termasuk Makassar.

Partikulat halus itu bisa berasal dari emisi kendaraan bermotor maupun aktivitas industri. Namun karhutla di sejumlah daerah berkontribusi besar terhadap lonjakan partikel di udara.

"Contohnya untuk di wilayah Sulsel ini terjadi di wilayah Kabupaten Pangkep, kemudian di Bantaeng, di Pinrang, di Enrekang. Ini dalam beberapa hari terakhir laporannya terjadi kebakaran hutan yang cukup masif hingga beberapa hektare," jelas Rizky.

Meski karhutla tidak terjadi di Makassar, asap dan partikel pembakaran dari wilayah lain terbawa angin. Arah angin menentukan dari mana partikulat datang dan ke mana sebarannya bergerak.

"Saat arah angin bertiup dari arah barat, maka asap-asap dari Kalimantan ataupun asap-asap dari Sulawesi Selatan sendiri itu tidak bisa keluar dari wilayah Sulawesi Selatan," imbuh Rizky.

Parepare Waspadai Lonjakan ISPA

Di Parepare, konsentrasi PM2.5 juga terpantau 85,3 mikrogram per meter kubik pada Jumat (9/10). Kabut asap membuat pandangan terlihat samar.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Parepare Muhammad Idris menyatakan pihaknya mewaspadai dampak kabut asap terhadap kesehatan warga. "Asap pasti, pasti ada efek yang kita khawatirkan, terutama sekali terkait dengan penyakit ISPA," ujarnya kepada wartawan.

Dinkes Parepare melaporkan total penderita ISPA mencapai 2.000 orang sejak Januari 2026. Kasus ISPA mengalami tren kenaikan sekitar 10 sampai 15 persen dalam sebulan terakhir.

"Peningkatannya sekitar 10 sampai 15 persen. Iya, jadi sekitar 2.000 lebih ya, 2.000 lebih sekarang ini penderita ISPA," ungkap Idris.

Kendati begitu, Dinkes Parepare belum menyimpulkan apakah kenaikan kasus ISPA murni akibat paparan asap atau faktor perubahan iklim. "Kecenderungan kasus ISPA naik, tapi kita juga masih perlu melihat apakah betul karena pengaruh asap ini atau memang karena pengaruh iklim," jelasnya.

Kualitas Udara Masih Dinamis

Kualitas udara sempat membaik pada Senin (5/10) setelah konsentrasi PM2.5 turun ke kategori sedang dengan nilai di bawah 55 mikrogram per meter kubik. Namun kondisi itu tidak bertahan lama.

"Jadi kalau misalkan kebakaran lahannya yang ada di Sulsel maupun di sekitaran Sulsel ini masih ada dan masih intens, maka potensi terjadinya udara kabut di Kota Makassar juga bisa kembali terjadi," tutur Rizky.

BMKG memprediksi penurunan kualitas udara masih berlanjut hingga 13 Oktober 2026. Warga diminta mengurangi aktivitas luar ruangan dan memakai masker saat beraktivitas di luar rumah.

Reporter: Ginanjar Raharjo
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top