Cara Mengolah Sampah Organik di Solo, 60 Persen Masalah Selesai

Penulis: Fauzan Arifin  •  Kamis, 15 Oktober 2026 | 12:43:31 WIB
Komposter 200 liter berbahan plastik daur ulang digunakan untuk mengolah sampah organik rumah tangga di Gilingan, Solo.

SULAWESI SELATAN — Kawasan Gilingan di Solo, Jawa Tengah, mengembangkan pengolahan sampah organik rumah tangga menggunakan komposter 200 liter berbahan plastik daur ulang. Fasilitas ini disiapkan Coca-Cola Foundation Indonesia bersama Resikplus untuk mengubah sisa makanan menjadi kompos yang dipanen tiap dua bulan. Program masih dalam tahap sosialisasi dan menargetkan sedikitnya 50 warga berpartisipasi pada tahap awal.

Sebanyak 30 kilogram sisa makanan diperkirakan dihasilkan satu rumah tangga di Gilingan setiap bulan. Sekitar 75 persen dari berat itu berupa air, sehingga kompos yang terbentuk setelah proses penguraian diproyeksikan hanya 5–10 kilogram. Angka tersebut menjadi gambaran bagi warga mengenai hasil nyata yang bisa mereka dapatkan dari kebiasaan memilah sampah dapur.

Warga Gilingan sebelumnya terbiasa membuang sisa makanan bercampur dengan jenis sampah lain. Jika pengolahan organik berjalan konsisten, sebagian besar timbulan sampah tidak perlu lagi diangkut ke tempat pembuangan akhir.

Dari Lubang Tanah ke Komposter 200 Liter

Bayu Imamtoko, Founder Resikplus, menjelaskan metode penguburan sisa makanan di lubang tanah sudah lama dipraktikkan warga pedesaan. Cara itu kini sulit diterapkan di permukiman padat dengan lahan terbatas.

"Joganan itu kalau dulu memang di pedesaan lahannya masih luas, bisa gali tanah, semua sisa makanan dimasukkan di situ, ditutup lagi dengan tanah, selesai masalahnya," kata Bayu saat jumpa pers di Solo, Kamis, 8 Oktober 2026.

Resikplus mengadaptasi kebiasaan tersebut menjadi komposter berbentuk kotak berkapasitas 200 liter dari plastik daur ulang. Wadah ini menampung sisa makanan rumah tangga selama proses penguraian berlangsung tanpa perlu menggali lubang.

Panen Kompos Setiap Dua Bulan

Imam, perwakilan pengelola program, menyebut kompos dari komposter ini dipanen kira-kira setiap dua bulan. Hasilnya direncanakan dipakai kembali oleh masyarakat, meski prioritas tahun pertama adalah mengolah sisa makanan yang terus diproduksi rumah tangga.

Pemanfaatan kompos untuk menanam sayuran baru akan dikembangkan setelah proses pengelolaan berjalan lebih matang. Bau yang muncul saat sisa makanan menumpuk menjadi alasan lain mengapa pengolahan sejak dari sumber penting dilakukan.

Klaim 60 Persen Masalah Sampah

Menurut Imam, timbulan sampah organik termasuk sumber utama bau dari sampah rumah tangga. Pengolahan di tingkat warga dinilai bisa menekan jumlah sampah yang harus dibawa keluar kawasan.

"Kalau memang pengolahan sisa makanannya berhasil, 60 persen masalah sampah sudah selesai di wilayah itu," ujarnya.

Klaim itu menjelaskan mengapa program ini menyasar rumah tangga, bukan hanya fasilitas pengolahan skala besar. Warga perlu memahami cara memilah sisa makanan dan mengikuti alur pengumpulan yang disiapkan sebelum pengolahan berjalan konsisten.

Mesin Pencacah Plastik dan Target 50 Warga

Pengelolaan sampah di Gilingan tidak hanya mengandalkan komposter. Program ini juga menyiapkan mesin pencacah plastik agar kemasan yang terkumpul punya nilai jual lebih baik dibandingkan dijual tanpa pengolahan.

Sampah organik dan kemasan dipisahkan sejak awal agar masing-masing ditangani sesuai karakteristiknya. Residu yang tidak bisa diolah tetap masuk ke sistem pengelolaan sampah yang berlaku.

Program menargetkan sedikitnya 50 warga berpartisipasi pada tahap awal. Imam menilai keterlibatan masyarakat menentukan apakah fasilitas yang tersedia benar-benar dipakai.

"Kunci utamanya adalah masyarakat mau bergerak," katanya.

Yang Bisa Ditiru Daerah Lain

Kawasan Gilingan berada di Kota Solo, Jawa Tengah, dan bisa dijangkau dari pusat kota dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Bagi warga luar daerah yang ingin meniru model ini, informasi terkini soal jadwal sosialisasi dan ketersediaan komposter dapat dikonfirmasi ke Resikplus atau dinas lingkungan hidup setempat.

Skema pengolahan organik dari rumah tangga seperti ini cocok untuk kawasan permukiman padat yang lahannya sempit. Kuncinya ada pada pemilahan sejak awal dan konsistensi warga memasukkan sisa makanan ke komposter, bukan ke tempat sampah campuran.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top