SULAWESI SELATAN — Buku "The World's Most Beautiful Shops" merangkum 20 toko paling memikat di dunia, dari toko lilin berusia 237 tahun di Lisbon sampai townhouse tekstil di Istanbul. Karya desainer Paula Flynn ini lahir dari situs The Shopkeepers yang ia kelola sepuluh tahun terakhir. Bagi traveler yang suka berburu toko khas saat melancong, daftar ini bisa jadi peta jalan.
Paula Flynn menghabiskan sepuluh tahun mendokumentasikan toko-toko fisik lewat situs The Shopkeepers. Situs itu memuat direktori toko bata-dan-mortir, panduan berdasarkan jenis dan wilayah, serta profil para pemiliknya. Dari situlah lahir buku "The World's Most Beautiful Shops", kumpulan pengalaman belanja paling khas dari berbagai penjuru dunia.
Flynn menilai toko hebat dari beberapa hal. Fasadnya bisa jadi sama indahnya dengan nilai sejarahnya, dengan papan nama yang menua rapi dan mengisyaratkan masa lalu panjang. Di dalam, pengunjung menemukan kurasi barang yang teliti atau obsesi pada satu jenis produk saja.
Pemilik toko jadi perekat semuanya. Menurut Flynn, sosok inilah yang memberi rasa tempat yang tak tergantikan dan alasan untuk tinggal sedikit lebih lama.
Dalam wawancara dengan Condé Nast Traveler, Flynn menyebut setiap toko dalam bukunya berhasil menciptakan momen khas yang berbicara soal selera lokasi dan warisannya.
"Masing-masing dari mereka berhasil menciptakan momen khusus yang berbicara tentang sensibilitas lokasi dan warisan mereka," kata Flynn.
Ia menegaskan toko-toko itu adalah proyek yang dipengaruhi tempatnya berada, bukan meniru sesuatu yang bisa ditemukan di belahan dunia lain. Yang ingin disorot Flynn adalah toko-toko yang "memberi karakter pada suatu tempat".
Sebaran geografisnya luas. Ada toko lilin berusia 237 tahun di Lisbon, Portugal, yang bertahan lintas generasi. Di Istanbul, Turki, sebuah townhouse dialihfungsikan menjadi museum tekstil yang bisa dikunjungi.
Dua contoh itu mewakili rentang panjang daftar: dari operasi keluarga berusia lebih dari satu abad sampai butik kontemporer. Semuanya punya satu benang merah, yakni dedikasi pada keahlian dan rasa tempat yang kuat.
Flynn sadar toko bisa tutup atau berubah seiring waktu. Meski begitu, ia yakin warisan mereka tetap hidup.
"Buku ini adalah penghormatan, dan saya pikir ini toko-toko yang selalu bisa dijadikan inspirasi orang," ujarnya.
Pandangan itu masuk akal di era belanja daring. Toko fisik yang bertahan biasanya menawarkan sesuatu yang tak bisa direplikasi layar: pengalaman masuk ruang, menyentuh barang, dan berbincang dengan pemiliknya.
Bagi yang merencanakan perjalanan, daftar ini bisa dipakai sebagai inspirasi rute. Sebelum berangkat, cek dulu jam operasional dan status buka-toko karena kondisi retail bisa berubah cepat. Informasi terkini sebaiknya dikonfirmasi lewat kanal resmi masing-masing toko atau dinas pariwisata setempat.
Sisihkan waktu khusus untuk mampir tanpa terburu-buru. Percakapan singkat dengan pemilik sering membuka cerita yang tak ada di panduan mana pun. Itu pula yang membuat toko-toko dalam daftar Flynn layak jadi tujuan, bukan sekadar persinggahan.