SULAWESI SELATAN — Bank Indonesia mencatat rupiah melemah 0,61% secara point to point ke Rp17.985 per dolar AS pada 20 Oktober 2026, dibandingkan posisi akhir September 2026. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, pengetatan kebijakan moneter AS, dan sentimen investor asing di pasar saham sebagai pemicu utama. Bank sentral mengklaim insentif lindung nilai sejak Juni 2026 telah menarik modal asing US$9,9 miliar.
Pelemahan rupiah berlangsung di tengah tekanan eksternal yang belum mereda. Destry Damayanti menyampaikan hal itu dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bank Indonesia Oktober 2026 di kantor BI, Jakarta Pusat, Rabu (21/10).
Menurut Destry, arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang mengetat menjadi salah satu faktor yang menahan penguatan mata uang Garuda. Tekanan itu diperparah oleh posisi investor asing di pasar saham domestik yang masih berhati-hati.
Bank sentral merinci tiga sumber tekanan yang bekerja bersamaan terhadap nilai tukar. Ketiganya datang dari luar negeri, bukan dari kondisi fundamental domestik.
"Perkembangannya dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham," ujar Destry dalam konferensi pers tersebut.
Untuk menahan laju pelemahan, BI mengoptimalkan seluruh instrumen moneter yang tersedia. Salah satu yang diandalkan adalah kebijakan insentif biaya lindung nilai yang mulai berlaku Juni 2026.
Hingga 20 Oktober 2026, kebijakan itu mencatat aliran masuk modal asing sebesar US$9,9 miliar. Angka tersebut menjadi dasar klaim bank sentral bahwa insentif berjalan sesuai arah.
Cakupan insentif tidak hanya untuk instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) beli lindung nilai konvensional kepada BI. Fasilitas serupa juga diberikan untuk transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction) dengan negara mitra.
Tujuannya agar imbal hasil aset rupiah tetap menarik bagi investor asing. Dengan begitu, aliran portofolio masuk bisa menopang permintaan terhadap mata uang domestik.
Selain insentif, BI mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA). Langkah ini ditempuh agar likuiditas valas domestik lebih dalam dan pergerakan kurs tidak mudah terguncang oleh transaksi besar.
Destry menegaskan komitmen bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar tetap utuh. Seluruh instrumen moneter akan terus dioptimalkan sesuai kebutuhan pasar.
Ke depan, bank sentral memperkirakan nilai tukar rupiah kembali stabil di tengah dinamika global. Proyeksi itu bersandar pada empat penopang yang disebut Destry.
"Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak stabil, didukung komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali dalam sasaran, dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik," ujarnya.
Bagi investor, pernyataan tersebut menempatkan imbal hasil aset rupiah sebagai salah satu jangkar utama. Selama inflasi bertahan dalam sasaran dan premi imbal hasil tetap kompetitif, tekanan eksternal dinilai bisa diserap tanpa mengganggu stabilitas kurs.
Pelaku usaha yang punya eksposur valas tetap perlu mencermati arah kebijakan moneter AS. Sebab faktor itu berada di luar kendali domestik dan menjadi pemicu utama pelemahan rupiah dalam periode ini.