SULAWESI SELATAN — Kontrak CPO acuan untuk pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tergelincir 1,81% ke posisi 4.511 ringgit per ton pada perdagangan Jumat kemarin. Meski begitu, secara mingguan kontrak yang sama masih menguat 0,69%, memutus tren penurunan yang berlangsung selama dua pekan berturut-turut.
Stok Membengkak, Pasar Cemas
Tekanan jual muncul setelah data resmi dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) dirilis. Lembaga tersebut melaporkan bahwa stok minyak sawit Malaysia pada Juni membengkak ke level tertinggi dalam empat bulan terakhir.
Direktur Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, mengatakan bahwa pasar mulai khawatir terhadap kemampuan penyerapan pasokan. "Peningkatan produksi berlangsung lebih cepat dibandingkan permintaan, ini yang memicu kekhawatiran," ujarnya.
Produksi Lebih Cepat dari Permintaan
Fenomena produksi yang melampaui permintaan biasanya menjadi sinyal bearish bagi harga CPO. Apalagi jika tren ini berlanjut, tekanan terhadap harga berpotensi kembali terjadi pada pekan-pekan mendatang.
Para pelaku pasar kini mencermati data ekspor dan permintaan dari negara-negara importir utama, termasuk India dan China, untuk melihat apakah stok yang menumpuk bisa segera terserap.
Kenaikan mingguan sebesar 0,69% memang tipis, namun cukup untuk menghentikan tren negatif yang membayangi pasar sawit dalam dua pekan sebelumnya. Pertanyaannya sekarang: apakah ini awal pemulihan atau sekadar jeda sebelum tekanan baru datang?