Pencarian

7 Kuliner Khas Sulawesi Selatan yang Wajib Dicoba, dari Coto Makassar hingga Pisang Epe

Kamis, 16 Juli 2026 • 19:28:01 WIB
7 Kuliner Khas Sulawesi Selatan yang Wajib Dicoba, dari Coto Makassar hingga Pisang Epe
Seorang penjual menyajikan Coto Makassar dalam mangkuk, lengkap dengan ketupat dan buras sebagai pendamping.

Makassar bukan cuma pintu gerbang Indonesia Timur. Kota ini juga pusat peradaban kuliner yang jejaknya terasa hingga ke pedalaman Toraja dan pesisir Bulukumba. Bagi perantau atau wisatawan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Sulawesi Selatan, tujuh hidangan di bawah ini jadi gerbang utama untuk memahami selera lokal yang berani dan kompleks.

Setiap hidangan punya cerita dan teknik pengolahan yang diwariskan lintas generasi. Bukan sekadar daftar, artikel ini akan mengupas pengalaman langsung mencicipi masing-masing kuliner—dari tekstur, aroma, hingga momen terbaik menikmatinya.

1. Coto Makassar: Kuah Kacang yang Lebih dari Sekadar Sup

Coto Makassar bukan sup biasa. Kuahnya pekat, hasil rebusan jeroan sapi dan rempah seperti ketumbar, lengkuas, dan serai yang dihaluskan bersama kacang tanah sangrai. Aroma kaldu dan kacang menyatu, menciptakan rasa gurih yang dalam.

Penyajiannya di warung-warung sepanjang Jalan Sungai Saddang atau di sekitar Benteng Rotterdam biasanya ditemani ketupat dan buras—sejenis lontong isi. Jangan kaget kalau penjual menawarkan tambahan paru atau babat; itu justru bagian paling dicari oleh penggemar sejati. Waktu terbaik menikmatinya pagi hari, saat kuah masih mendidih di panci besar.

2. Pallubasa: Saudara Kandung Coto yang Lebih Berani

Sekilas mirip Coto, tapi Pallubasa punya perbedaan mendasar. Kuahnya lebih kental karena tambahan santan, dan potongan dagingnya lebih besar—biasanya daging sapi tetelan atau iga. Rasa rempahnya lebih tajam, dengan dominasi pala dan kayu manis.

Di beberapa tempat, Pallubasa disajikan dengan telur mentah yang diaduk langsung ke dalam kuah panas. Proses ini mengentalkan kuah sekaligus memberi tekstur lembut. Satu porsi biasanya sudah termasuk perkedel dan sambal tauco yang asam pedas. Tempat-tempat di Jalan Haji Bau atau Jalan Kartini, Makassar, jadi rujukan utama pencinta hidangan ini.

3. Konro Bakar: Iga Sapi dengan Bumbu Khas yang Menempel

Iga sapi bakar ala Makassar ini beda dengan iga bakar dari daerah lain. Bumbunya terbuat dari kelapa sangria, lengkuas, dan bawang putih yang dihaluskan, lalu dioles berulang kali selama proses pembakaran. Hasilnya, lapisan bumbu menempel tebal di permukaan daging, sementara bagian dalamnya tetap empuk.

Konro bakar biasanya disajikan dengan nasi putih hangat dan seporsi kuah asam bernama "kalua"—kaldu iga yang bening dengan rasa asam segar dari belimbing wuluh. Warung-warung di sekitar Pantai Losari atau Jalan Banda jadi tempat favorit untuk mencicipi. Pilih iga yang masih menempel lemak tipis; itu yang bikin rasanya lebih gurih.

4. Sop Saudara: Sop Khas Bugis yang Ringan di Perut

Berbeda dari sop daging pada umumnya, Sop Saudara menggunakan daging sapi yang diiris tipis, lalu disiram kuah kaldu bening berbumbu pala dan cengkeh. Isiannya unik: perkedel kentang, soun, dan potongan daun bawang yang melimpah.

Rasanya ringan, tidak terlalu pekat, cocok dimakan kapan saja. Di Kabupaten Bone atau Wajo, Sop Saudara jadi menu sarapan favorit. Cara makannya: campur semua isian, tambah sambal dan jeruk nipis, lalu suap bersama kerupuk. Satu porsi biasanya sudah cukup mengenyangkan.

5. Kapurung: Hidangan Berkuah Khas Luwu yang Langka di Luar Daerah

Kapurung berasal dari daerah Luwu, Sulawesi Selatan bagian utara. Bahan utamanya sagu yang diolah menjadi butiran kenyal mirip cilok, lalu direbus bersama kuah ikan cakalang atau tongkol. Kuahnya kuning dari kunyit, dengan potongan sayuran seperti kangkung, kacang panjang, dan terong bulat.

Teksturnya unik: kenyal di mulut, tapi langsung lumer saat digigit. Kapurung jarang ditemukan di rumah makan besar Makassar; biasanya harus mencari ke warung-warung kecil di daerah Palopo atau Belopa. Kalau kebetulan lewat jalur trans-Sulawesi, singgah sebentar untuk mencicipi hidangan yang satu ini.

6. Barongko: Kue Pisang Khas Bugis yang Lembut dan Manis

Barongko adalah dessert tradisional dari pisang kepok yang dihaluskan, dicampur santan dan gula, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Teksturnya lembut seperti puding, dengan aroma daun pisang yang kuat. Rasanya manis alami tanpa tambahan gula berlebihan.

Kue ini sering muncul di acara-acara adat Bugis-Makassar, tapi juga mudah ditemukan di pasar tradisional seperti Pasar Terong atau Pasar Pa'baeng-baeng. Barongko paling nikmat dimakan dalam keadaan dingin, ditemani secangkir kopi hitam pahit. Kombinasi rasa manis dan pahitnya pas.

7. Pisang Epe: Pisang Bakar dengan Saus Gula Merah yang Legendaris

Pisang Epe adalah jajanan kaki lima paling populer di Makassar. Pisang kepok dibakar di atas bara api, lalu dipipihkan dengan alat kayu—itulah kenapa disebut "epe" yang berarti "pipih" dalam bahasa Makassar. Setelah pipih, pisang diolesi saus gula merah kental yang dicampur sedikit air asam.

Pisang Epe paling enak dinikmati malam hari di sepanjang trotoar Pantai Losari. Suasana angin laut dan lampu kota jadi pelengkap. Beberapa penjual juga menawarkan varian dengan taburan keju atau cokelat, tapi versi original dengan gula merah tetap yang paling banyak dicari.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa kuliner paling ikonik dari Sulawesi Selatan?
Coto Makassar dan Konro Bakar adalah dua hidangan yang paling sering disebut sebagai ikon kuliner daerah ini. Keduanya punya cita rasa kuat dan teknik memasak khas yang tidak ditemukan di daerah lain.

Apakah semua kuliner Sulawesi Selatan halal?
Sebagian besar kuliner tradisional di Sulawesi Selatan menggunakan daging sapi, kerbau, atau ikan—semuanya halal. Namun, beberapa warung mungkin menyajikan jeroan babi di daerah tertentu; sebaiknya tanyakan langsung ke penjual jika ragu.

Di mana tempat terbaik mencicipi kuliner khas Makassar?
Pusat kuliner di sekitar Jalan Banda, Jalan Sungai Saddang, dan Pantai Losari punya banyak pilihan. Untuk pengalaman lebih autentik, coba datangi pasar tradisional seperti Pasar Terong atau Pasar Pa'baeng-baeng pada pagi hari.

Berapa kisaran harga untuk sekali makan?
Harga bervariasi tergantung tempat dan porsi. Lebih baik cek langsung ke lokasi atau tanya penduduk lokal untuk informasi terkini.

Apa minuman pendamping yang cocok?
Teh manis hangat atau es kelapa muda jadi pilihan umum. Untuk yang suka rasa kuat, kopi hitam khas Toraja sangat direkomendasikan—rasanya berpadu sempurna dengan hidangan berbumbu pekat.

Menjelajahi kuliner Sulawesi Selatan bukan sekadar soal mengisi perut. Setiap suapan menyimpan cerita tentang laut, sawah, dan tradisi yang dirawat turun-temurun. Dari Coto yang pekat hingga Pisang Epe yang manis, ketujuh hidangan ini adalah pintu masuk untuk memahami karakter masyarakatnya yang berani, hangat, dan tidak setengah-setengah dalam menciptakan rasa.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks