SULAWESI SELATAN — Pertamina EP Jatibarang Field mendampingi sekitar 60 petani di Desa Jatisura, Indramayu, dengan total lahan garapan 114 hektare pada musim tanam kedua. Program yang dimulai sejak 2025 itu menaikkan hasil panen gabah kering panen dari 6,5 ton menjadi 8,5-11 ton per hektare. Pendampingan ini menyasar wilayah operasi perusahaan yang 90 persen warganya bergantung pada lahan pertanian.
Pertamina EP Zona 7 Regional Jawa Bagian Barat menjalankan program itu melalui Pertamina EP Jatibarang Field, setelah melakukan uji laboratorium kadar unsur hara tanah bersama Universitas Padjadjaran. Hasil uji itu menjadi dasar penentuan dosis pupuk yang proporsional bagi lahan sawah tadah hujan milik warga.
Officer Communication Relation & CID PT Pertamina EP Zona 7, Noor Taufiq, menyebut program bermula dari keluhan kelompok tani soal tanah yang sudah kehilangan kesuburannya. Lahan yang sebelumnya bisa ditanami dua kali setahun tidak lagi produktif.
Program dimulai sebagai uji coba pada lahan seluas satu hektare bersama sepuluh petani. Pada musim tanam kedua, cakupannya meluas menjadi sekitar 60 petani yang tergabung dalam enam kelompok tani di Desa Jatisura.
Selain pendampingan budidaya, Pertamina membangun lima titik sumur bor untuk memperbaiki pengairan. Perusahaan juga memberikan bantuan agen hayati Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan memasang Rumah Burung Hantu (Rubuha) untuk mengendalikan hama tikus secara alami.
Hasilnya terlihat pada volume panen. Sebelum pendampingan, rata-rata produksi gabah kering panen 6,5 ton per hektare. Kini angkanya bergerak di kisaran 8,5 hingga 11 ton per hektare.
Frekuensi panen juga meningkat dari satu kali menjadi dua kali dalam setahun. Biaya perawatan tanaman ikut ditekan seiring perbaikan unsur hara dan pengairan.
"Rata-rata produksi yang sebelumnya kami dampingi itu di 6,5 ton, saat ini kelompok tani pada saat panen, produksi GKP, gabah kering panennya itu di angka 8,5 sampai 11 ton bahkan," ujar Taufiq dalam keterangan di Desa Jatisura, Indramayu, Rabu (23/9/2026).
Taufiq menjelaskan 90 persen masyarakat di sekitar wilayah operasi Pertamina EP Jatibarang Field bersinggungan langsung dengan lahan pertanian. Kondisi itu membuat perusahaan menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu perhatian utama, bersanding dengan ketahanan energi.
"Masyarakat yang berada di wilayah operasi kami, khususnya di Pertamina EP Jatibarang Field, 90%-nya bersinggungan dengan lahan pertanian. Sehingga ini merupakan salah satu concern kami bagaimana kita bisa berdaya bersama, bersinergi di mana ketahanan pangan dan ketahanan energi," kata Taufiq.
Menurut dia, kenaikan hasil 30-50 persen dengan biaya perawatan lebih rendah membuat kelompok tani lain tertarik ikut program pada musim tanam kedua. Pertamina berharap ilmu budidaya yang ditransfer bisa terus berjalan meski pendampingan berakhir.
"Kalau sampai kapan program ini dijalankan, ya harapan kami ketika ilmu ini sudah bisa kita transfer kepada masyarakat dan ketika ada bukti yang nyata," ucapnya.
Bagi Indramayu yang menjadi salah satu lumbung padi Jawa Barat, kenaikan produktivitas di level petani kecil seperti di Jatisura menjadi ujian nyata program tanggung jawab sosial sektor migas. Keberhasilannya bergantung pada apakah perbaikan unsur hara dan pengairan bisa dipertahankan setelah pendampingan perusahaan selesai.