SULAWESI SELATAN — Cuka apel makin populer sebagai cara menekan lonjakan gula darah setelah makan, terutama bagi penderita diabetes atau prediabetes. Tapi sebelum ikut mencoba, ada baiknya ibu tahu cara aman mengonsumsinya dan siapa yang sebaiknya menghindari, menurut penjelasan dokter gizi berikut.
Cuka apel memang bukan sekadar tren dapur. Kandungan asam asetat di dalamnya disebut bisa memperlambat pemecahan karbohidrat, sehingga gula darah naik lebih pelan dan rasa kenyang bertahan lebih lama.
Namun, manfaat itu datang dengan catatan penting. Salah konsumsi, cuka apel justru bisa melukai lambung, terutama bagi yang punya riwayat maag atau GERD.
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan asam asetat dalam cuka apel menghambat kerja enzim yang memecah pati di saluran pencernaan. Efeknya, karbohidrat dicerna lebih lambat dan rasa kenyang bertahan lebih lama.
"Nah, kalau cuka apel ini sebenarnya ada asam asetatnya. Kandungan asam asetatnya itu yang sebenarnya kayak menghambat enzim yang memecah pati, jadi memang bikin kita kenyang lebih lama," ujar dr Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (24/9/2026).
Itulah alasan cuka apel sering dikaitkan dengan lonjakan gula darah yang lebih terkendali setelah makan. Tapi efek ini bukan berarti cuka apel bisa menggantikan pengobatan atau pola makan sehat.
Kesalahan paling umum adalah meminum cuka apel murni, apalagi saat perut kosong. dr Yaze menegaskan kebiasaan ini berisiko merusak dinding lambung.
"Tapi kalau misalnya diminum gitu aja, apalagi sebelum makan dan punya penyakit maag, udah pasti gak disarankan. Karena pH-nya kan lumayan asam ya, sekitar 2-3. Itu udah pasti akan merusak dinding lambung," tegasnya.
Tingkat keasaman cuka apel yang mencapai pH 2-3 membuatnya setara dengan cairan lambung. Bagi pemilik maag, gastritis, atau GERD, konsumsi langsung bisa memicu nyeri ulu hati hingga memperparah peradangan.
Kalau tetap ingin mencoba, dr Yaze menyarankan agar cuka apel selalu dilarutkan, bukan diminum dalam bentuk konsentrat murni.
"Jadi sebaiknya itu dilarutkan, misalnya 1-2 sendok cuka apel dengan air hangat. Dan nggak disarankan juga kalau bisa bukan sebelum makan," sarannya.
Bagi yang punya penyakit lambung kronis seperti gastritis atau GERD, dr Yaze mengimbau agar tidak memaksakan diri mengonsumsi cuka apel. Sebagai gantinya, kontrol gula darah bisa didapat dari asupan serat alami.
"Terus lebih baik kalau misalnya memang punya penyakit lambung, misalnya gastritis atau GERD, mungkin bisa dikonsumsi (serat) di sayur atau buah, dibandingkan si cuka apel tadi," pungkasnya.
Serat dari sayur dan buah bekerja lebih lembut di lambung, tapi tetap membantu memperlambat penyerapan gula. Pilihan seperti sayuran hijau, apel utuh, dan kacang-kacangan bisa jadi alternatif yang lebih ramah bagi pencernaan sensitif.
Jika ibu sedang mengonsumsi obat diabetes atau memiliki gangguan lambung, sebaiknya tanyakan dulu ke dokter sebelum menambahkan cuka apel ke rutinitas harian.
Hentikan pemakaian dan segera periksa bila muncul nyeri ulu hati, mual, atau rasa terbakar di dada setelah minum cuka apel. Gejala ini bisa jadi tanda iritasi lambung yang perlu ditangani lebih lanjut.
Cuka apel bisa jadi pelengkap, bukan solusi utama. Kontrol gula darah tetap bergantung pada pola makan seimbang, aktivitas fisik rutin, dan pemantauan berkala sesuai anjuran dokter.