SULAWESI SELATAN — Danantara akan menggabungkan 23 perusahaan kawasan industri menjadi satu entitas pada 5 November 2026, dengan total lahan sekitar 35.000 hektar. Model bisnis baru ini menghapus tanah sebagai sumber pendapatan, sehingga investor yang masuk tidak perlu membayar lahan.
Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria menyatakan konsolidasi ini akan menciptakan pengelola kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. Perusahaan hasil merger nantinya mengandalkan pendapatan dari fasilitas dan layanan di dalam kawasan, bukan dari penjualan tanah.
Tanah Gratis Jadi Kunci Daya Saing
Dony menjelaskan perubahan model bisnis dilakukan untuk mempercepat masuknya investasi ke Indonesia. Selama ini, biaya tanah menjadi salah satu komponen yang membebani investor saat masuk ke kawasan industri.
"Ke depannya tanah bukan lagi menjadi sumber pendapatan, tetapi tanah itu akan kami berikan secara cuma-cuma. Pendapatannya akan datang dari fasilitas yang kami sediakan," kata Dony di hotel Kempinski, Jakarta, Kamis (8/10).
Dengan skema tersebut, Danantara berharap kawasan industri Indonesia lebih kompetitif dibandingkan negara lain di kawasan. Pemerintah juga tengah menyiapkan konsep kawasan industri terintegrasi yang mencakup berbagai fasilitas penunjang.
Fasilitas Terintegrasi Jadi Sumber Pendapatan Baru
Sejumlah fasilitas yang disiapkan antara lain sekolah, properti, listrik, pengolahan air, hingga jaringan fiber optic. Seluruh fasilitas tersebut nantinya menjadi sumber pendapatan Danantara setelah merger rampung.
"Pemerintah sedang menyiapkan satu integrated kawasan industri, di dalamnya nanti akan ada tempat sekolah, kemudian ada properti, kemudian ada listriknya akan menjadi sumber pendapatan, kemudian juga water treatment, kemudian juga fiber optic, dan lain sebagainya," ujar Dony.
Dony menambahkan, langkah merger ini merupakan bagian dari penataan perusahaan negara dan pemisahan bisnis kawasan industri dari fungsi asset management. Mekanisme final soal tanah gratis masih dalam tahap perumusan.
Dampak ke Investor dan Pelaku Industri
Bagi investor, hilangnya biaya tanah berpotensi menurunkan belanja modal awal saat masuk ke kawasan industri. Skema ini juga bisa mempercepat realisasi investasi di sektor manufaktur dan logistik yang selama ini terkendala harga lahan.
Dony menyebut pihaknya mendorong investor masuk sebanyak mungkin agar daya saing industri meningkat sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan. "Kami justru mendorong mereka untuk masuk sebanyak mungkin supaya lebih kompetitif dan menciptakan lapangan pekerjaan yang banyak bagi rakyat Indonesia," katanya.
Kepastian mengenai model bisnis baru tersebut akan disampaikan setelah proses merger pada 5 November 2026. "Ini yang kita rumuskan bisnis modelnya, insyaallah nanti setelah 5 November, tetapi pada prinsipnya kurang lebih demikian," kata Dony.
Dengan total lahan sekitar 35.000 hektar, perusahaan hasil merger ini akan menjadi pengelola kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. "Kita akan menjadi pengelola industrial estate terbesar se-Asia Tenggara," ujarnya.