Pencarian

TrendForce Proyeksi Pengiriman Laptop Global Turun pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 • 10:54:31 WIB
TrendForce Proyeksi Pengiriman Laptop Global Turun pada 2027
Lembaga riset TrendForce memproyeksikan pengiriman laptop global turun pada 2027 akibat kenaikan biaya komponen.

SULAWESI SELATAN — Lembaga riset pasar TrendForce memproyeksikan pengiriman laptop global turun pada 2027, dengan rentang penurunan low- hingga high-single-digit persen akibat kenaikan biaya komponen. Besaran penurunan bergantung pada seberapa besar produsen membebankan kenaikan harga CPU, DRAM, dan SSD ke konsumen lewat harga ritel. Jika harga DRAM dan CPU tetap tinggi, penurunan pengiriman setahun penuh berpotensi melebar ke kisaran high-single-digit.

Dalam laporan riset industri notebook terbaru, TrendForce menyebut risiko utama pasar pada 2027 bergeser dari keterbatasan pasokan menjadi dampak kenaikan biaya terhadap permintaan. Pengiriman laptop global saat ini diproyeksikan turun pada kisaran low-single-digit persen.

Namun, jika harga DRAM dan CPU tetap tinggi, merek laptop bisa terpaksa meneruskan lebih banyak kenaikan biaya ke konsumen. Harga ritel yang lebih mahal berpotensi memperpanjang siklus penggantian perangkat, sehingga penurunan pengiriman sepanjang tahun bisa melebar ke kisaran high-single-digit.

Tekanan Biaya Komponen Jadi Pemicu Utama

TrendForce mencatat pengiriman laptop sepanjang 2026 ditopang sejumlah faktor, mulai dari membaiknya ketersediaan CPU, pembelian awal oleh produsen, hingga permintaan penggantian yang ditarik dari periode berikutnya.

Karena sebagian pembelian yang semula diperkirakan terjadi pada paruh kedua 2026 dan setelahnya sudah ditarik lebih awal, momentum penggantian di periode berikutnya berpotensi melemah. Persediaan berbiaya rendah juga kian menipis, membuat merek menghadapi tekanan langsung dari kenaikan harga CPU, DRAM, dan SSD.

Laporan itu menyebut 68% dari bill of materials sebuah "laptop mainstream dengan harga ritel yang disarankan produsen US$900" berasal dari biaya CPU, DRAM, dan SSD pada kuartal ketiga 2026.

Tiga Pilihan Sulit bagi Produsen Laptop

Jika biaya komponen terus naik pada 2027, merek laptop diperkirakan harus memilih di antara tiga opsi. Pertama, menaikkan harga ritel dan menanggung risiko permintaan melemah. Kedua, menyerap kenaikan biaya dengan mengorbankan margin kotor. Ketiga, menurunkan spesifikasi yang berpotensi membuat produk kurang kompetitif.

TrendForce menilai pasokan DRAM "kemungkinan tetap ketat" pada 2027 akibat permintaan terkait AI, "sementara PC DRAM menghadapi risiko pertumbuhan pasokan yang terbatas". Sebaliknya, keterbatasan pasokan NAND Flash diperkirakan "melonggar pada paruh kedua 2027 seiring masuknya kapasitas baru".

Pada 2027, merek laptop diperkirakan tidak bisa mempertahankan harga, spesifikasi, dan profitabilitas secara bersamaan. Seberapa besar kenaikan biaya dibebankan ke konsumen akan menjadi faktor kunci yang membentuk permintaan.

Produksi Laptop Berpotensi Kembali ke China

Laporan itu juga mencatat, jika tekanan tarif tidak meningkat lagi, produsen bisa memindahkan sebagian produksi laptop kembali ke China untuk menekan biaya. TrendForce memperkirakan pangsa China dalam produksi laptop global naik dari 76% pada 2025 menjadi 79% pada 2026, dan berpotensi melewati 80% pada 2027.

Bagi konsumen Indonesia, proyeksi ini menjadi sinyal bahwa harga laptop baru berpotensi menahan diri untuk turun dalam beberapa tahun ke depan. Merek yang bermain di segmen mainstream diperkirakan paling terpukul karena komponen CPU, DRAM, dan SSD mendominasi struktur biaya produk mereka.

Follow sulseldaily.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: 9to5mac.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks