SULAWESI SELATAN — BRI bersama Kementerian Luar Negeri menggelar forum A Taste of Harmony di Wisma Habibie Ainun, Jakarta, Jumat (16/10), dengan perwakilan dari 14 negara. Forum ini menghubungkan investor global dengan peluang bisnis di Indonesia sekaligus membuka akses korporasi nasional dan UMKM ke pasar internasional.
Direktur Corporate Banking BRI Riko Tasmaya, Direktur Treasury and International Banking BRI Farida Thamrin, dan Direktur Commercial Banking BRI Alexander Dippo Paris Y hadir langsung dalam forum bertema Connecting Global Opportunities, Empowering Indonesia, Delivering Impact itu. Ketiganya mewakili perseroan dalam dialog bersama sejumlah duta besar, perwakilan Kementerian Luar Negeri, serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.
Negara yang Terlibat
Perwakilan dari 14 negara memenuhi undangan, antara lain Belanda, Australia, Irlandia, Thailand, Qatar, Jerman, Vietnam, dan Italia. Dari jalur diplomatik, hadir Duta Besar Republik Indonesia untuk Belgia, Uni Emirat Arab, dan Vietnam, plus perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di India, Jepang, dan China.
Asosiasi bisnis dan kamar dagang internasional juga masuk daftar undangan. Ada American Chamber of Commerce in Indonesia (AmCham), European Business Chamber of Commerce in Indonesia (EuroCham), dan British Chamber of Commerce in Indonesia (BritCham).
Apa yang Dikejar BRI
Forum ini diposisikan sebagai ruang dialog strategis untuk memperkuat kemitraan internasional dan menjajaki kolaborasi bisnis. Bagi BRI, pertemuan itu mempertegas peran perseroan sebagai penghubung antara investor global dan peluang bisnis di dalam negeri.
Arahnya dua jalur. Arus investasi masuk ke Indonesia, sementara korporasi nasional dan UMKM mendapat jalur untuk menjangkau pasar internasional. Kombinasi itu disebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan memberi manfaat lebih luas bagi pelaku usaha.
Dampak ke Pelaku Usaha Lokal
Bagi UMKM, kehadiran kamar dagang internasional dalam forum semacam ini membuka peluang jejaring dagang yang biasanya sulit dijangkau sendiri. Akses pasar ekspor, mitra distribusi lintas negara, hingga pembiayaan dari investor asing menjadi opsi yang bisa dijajaki lewat pertemuan tersebut.
Pemerintah menempatkan forum ini sebagai bagian dari upaya menyambungkan diplomasi ekonomi dengan kebutuhan dunia usaha. Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM terlibat langsung, menandakan pendekatan yang tidak berhenti pada seremoni.
Langkah BRI ini memperluas peran bank pelat merah tersebut dari pembiayaan domestik ke penghubung investasi lintas negara. Bila berjalan sesuai rencana, manfaatnya tidak berhenti di korporasi besar, tetapi merembet ke usaha kecil yang selama ini kesulitan menembus pasar global.