SULAWESI SELATAN — iPhone Duo resmi memasuki fase review menjelang peluncurannya, dengan mayoritas pengulas menyebut perangkat lipat pertama Apple ini cepat dan menyenangkan, tetapi penuh kompromi di harga premium. Layar dalam 7,6 inci dan chip A20 Pro jadi nilai jual utama, sementara aplikasi yang belum dioptimalkan dan absennya Face ID jadi catatan. Perangkat ini paling masuk akal bagi pengguna awal yang siap menoleransi kekurangan generasi pertama.
Sejumlah pengulas teknologi telah mencoba iPhone Duo sebelum perangkat dijual resmi. Kesimpulan mereka relatif seragam: performa tidak mengecewakan, tetapi pengalaman pemakaian sehari-hari masih menyisakan banyak hal yang harus dibenahi.
Performa A20 Pro Setara iPhone 18 Pro
Gizmodo mencatat iPhone Duo memakai chip A20 Pro yang sama dengan iPhone 18 Pro, dengan konfigurasi 6-core CPU, 7-core GPU, dan dual 16-core Neural Engine. Vapor chamber di perangkat ini disebut Apple mampu menaikkan performa berkelanjutan hingga 35 persen dibanding iPhone 17 Pro.
Hasil Geekbench 7 memperlihatkan skor nyaris identik dengan iPhone 18 Pro: 4.002 single-core dan 10.728 multi-core, dengan skor GPU 60.608. Sebagai pembanding, Galaxy Z Fold 8 mencatat 3.112 single-core dan 10.438 multi-core, tetapi hanya 17.331 di pengujian GPU.
Angka itu menempatkan Z Fold 8 sekitar 22 persen lebih lemah di single-core dan 71 persen lebih rendah di GPU. Bagi pengguna yang sering membuka banyak aplikasi sekaligus atau menjalankan game berat, selisih ini terasa signifikan.
Layar Luar 5,4 Inci dan Layar Dalam 7,6 Inci
CNET menilai layar penutup 5,4 inci tetap nyaman dipakai meski ukurannya mungil. Keyboard menempati sekitar separuh layar sehingga mengetik terasa lancar, dan aktivitas ringan seperti membalas pesan, memesan transportasi online, atau memotret bisa dilakukan tanpa perlu membuka perangkat.
Saat pekerjaan menuntut lebih banyak ruang, layar dalam 7,6 inci menawarkan area kerja yang lebih lega untuk Google Docs, menonton video, hingga multitasking. Panel matte disebut lebih ramah mata, termasuk saat dipakai di luar ruangan.
Kamera FaceTime di bawah layar juga menghilang saat tidak aktif, sehingga konten terlihat lebih imersif tanpa lubang kamera yang mengganggu.
Aplikasi Belum Semua Dioptimalkan
WIRED menyoroti masalah ruang terbuang di layar dalam. Sebagian aplikasi pihak ketiga belum diperbarui untuk memanfaatkan lebar layar penuh, sehingga tampil dengan bilah hitam besar di kiri dan kanan atau letterboxed.
Apple memindahkan elemen navigasi iOS ke rel kanan, tetapi tanpa dukungan pengembang, area tersebut kerap kosong. Pengulas menyarankan calon pembeli menunggu beberapa bulan sampai lebih banyak aplikasi dikompilasi ulang dengan SDK iOS 27.1.
Antrean pre-order sendiri disebut baru tiba pada November hingga Januari, sehingga sebagian pembeli otomatis mendapat perangkat setelah pembaruan aplikasi menyusul.
Touch ID Jadi Penyesuaian Terberat
9to5Mac menyebut peralihan dari Face ID ke Touch ID sebagai bagian paling sulit untuk dibiasakan. Setelah bertahun-tahun membuka iPhone hanya dengan melihat layar, harus meraih tombol samping terasa seperti langkah mundur.
Meski begitu, Touch ID punya satu keunggulan praktis: saat ponsel tergeletak di meja, pengguna tidak perlu mengangkatnya untuk membuka kunci. Fitur buka kunci lewat Apple Watch juga tersedia dan disebut membuat pengalaman jauh lebih nyaman.
Baterai Tahan 13 Jam 20 Menit
Tom's Guide menguji daya tahan dengan menjelajah web pada kecerahan 150 nits lewat jaringan 5G sampai baterai habis. iPhone Duo bertahan 13 jam 20 menit, mengungguli Galaxy Z Fold 8 yang hanya 10 jam 6 menit, meski masih di bawah iPhone 18 Pro Max dengan 17 jam 31 menit.
Di sektor kamera, iPhone Duo membawa dua kamera belakang 48 megapiksel, yakni Fusion Main dan Fusion Ultra Wide, tanpa kamera telephoto. Kombinasi ini membatasi kemampuan zoom optik dibanding jajaran iPhone Pro.
Keputusan Pembelian
The Verge menyimpulkan iPhone Duo sebagai produk generasi pertama yang mahal, penuh kompromi, tetapi tetap menyenangkan. Perangkat ini diibaratkan seperti MacBook Air pertama yang baru benar-benar matang setelah redesain besar.
Bagi pengguna Indonesia yang tertarik mencoba perangkat lipat Apple, kesabaran jadi kunci. Menunggu optimalisasi aplikasi beberapa bulan ke depan tampak lebih bijak daripada membeli di gelombang pertama hanya demi gengsi perangkat perdana.