SULAWESI SELATAN — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan kenaikan menuju resistance psikologis 5.400 pada perdagangan Jumat (23/10), dengan resistance lanjutan di 5.459. Tim riset BRI Danareksa Sekuritas menempatkan support di area 5.240–5.190, namun mengingatkan momentum bearish belum sepenuhnya berakhir. Sejumlah saham direkomendasikan untuk dicermati investor, mulai dari perbankan hingga tambang nikel.
Namun BRIDS memberi catatan penting. Indikator MACD masih berada di zona negatif dengan garis MACD di bawah signal line, sehingga momentum bearish belum sepenuhnya berakhir. Penembusan level 5.400–5.459 diperlukan untuk memperkuat pemulihan. Sebaliknya, kegagalan bertahan di atas support berisiko memicu koreksi kembali.
Dalam bahasa pasar, support adalah area harga yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya kembali naik karena peningkatan pembelian. Adapun resistance adalah tingkat harga yang dinilai sebagai titik tertinggi, tempat aksi jual biasanya cukup besar sehingga laju kenaikan tertahan.
Analis BinaArtha Sekuritas, Ivan Rosanova, punya pandangan yang sejalan soal batas kritis. IHSG masih berpeluang naik jika mampu bertahan, kecuali indeks mulai turun di bawah 5.185. Penurunan di bawah level itu berpotensi membawa IHSG menguji support 4.972.
Ivan memetakan support IHSG di 4.972, 4.767, dan 4.629. Sementara level resisten berada di 5.458, 5.588, dan 5.774. Indikator MACD menurutnya menunjukkan kondisi netral.
Selain level teknikal, perhatian pelaku pasar tertuju pada tindak lanjut reformasi pasar modal oleh BEI dan OJK. Agenda itu mencakup peningkatan transparansi kepemilikan saham serta rencana mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari perhitungan IHSG.
Pernyataan Presiden Prabowo mengenai respons Indonesia terhadap MSCI turut menjadi perhatian pasar. Reformasi berpotensi memperkuat kredibilitas pasar dalam jangka panjang. Meski begitu, investor masih menantikan implementasi konkret untuk meredakan risiko capital outflow dan memulihkan kepercayaan terhadap pasar domestik.
Tim riset BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan tiga saham untuk dicermati:
Ketiganya mewakili dua sektor berbeda: perbankan dan logam tambang. BBTN bergerak di pembiayaan perumahan, sementara ANTM dan INCO terhubung ke rantai pasok nikel dan mineral.
Dari sisi BinaArtha Sekuritas, Ivan Rosanova menjagokan lima saham, yakni ADMR (PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk), BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia Tbk), BUMI (PT Bumi Resources Tbk), DEWA (PT Darma Henwa Tbk), dan EMTK (PT Elang Mahkota Teknologi Tbk).
Komposisi itu mencampur emiten energi dan mineral dengan perbankan besar serta media-teknologi. Bagi investor, daftar ini bisa jadi bahan pembanding terhadap rekomendasi BRIDS yang lebih condong ke perbankan menengah dan tambang nikel.
Dua rumah sekuritas sama-sama menempatkan level teknikal sebagai acuan utama, bukan sekadar sentimen. Selama IHSG bertahan di atas area support, peluang kenaikan tetap terbuka. Namun pelemahan di bawah 5.185 menjadi sinyal peringatan yang layak dipantau.
Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.