MAKASSAR — Komisi Hubungan Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan menilai peringatan Sumpah Pemuda mestinya tidak berhenti pada upacara dan pidato. H. Rusdi Hidayat Jufri, anggota komisi tersebut, menyebut tantangan pemuda hari ini sudah bergeser dari merebut kemerdekaan menjadi membawa Indonesia mengambil peran lebih besar di tengah persaingan dunia.
Rujukan sejarahnya jelas. Pada 1928, pemuda dari berbagai daerah, termasuk Sulawesi melalui organisasi Jong Celebes, ikut membangun kesadaran tentang pentingnya persatuan Indonesia. Hampir satu abad kemudian, medan perjuangannya berbeda, tetapi tuntutannya sama: keberanian mengambil tanggung jawab.
Rusdi membandingkan dengan sejumlah negara yang tidak ragu menempatkan anak muda di posisi strategis. Prancis pernah mengangkat Gabriel Attal sebagai perdana menteri pada usia 34 tahun. Finlandia mempercayakan jabatan serupa kepada Sanna Marin pada usia yang sama.
Uni Emirat Arab bahkan mengangkat Shamma Al Mazrui sebagai menteri pada usia 22 tahun. Di dunia usaha, Ritesh Agarwal dari India membangun jaringan perhotelan OYO sejak usia 19 tahun, sementara Markus Villig dari Estonia mendirikan perusahaan transportasi Bolt pada usia yang sama.
Menurut Rusdi, contoh-contoh itu memperlihatkan usia muda bukan penghalang untuk ikut dalam kepemimpinan dan pembangunan bangsa. Singapura, Finlandia, dan Uni Emirat Arab juga punya kebijakan yang memperkuat pendidikan, kesempatan kerja, kewirausahaan, serta partisipasi pemuda. "Negara yang ingin maju tidak cukup hanya membanggakan generasinya, tetapi harus memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada mereka," tulisnya.
Sulawesi Selatan punya bekal yang tidak dimiliki banyak daerah. Sejak berabad-abad lalu, masyarakat Bugis-Makassar dikenal sebagai pelaut, pedagang, dan perantau yang membangun hubungan dengan berbagai wilayah di Asia Tenggara. Tradisi merantau itu menunjukkan keberanian, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi.
Kini Makassar menjadi salah satu pusat perdagangan dan aktivitas ekonomi di kawasan Indonesia Timur. Dukungan perguruan tinggi, pesantren, serta potensi pertanian dan kelautan memperbesar peluang Sulsel melahirkan generasi muda berdaya saing internasional.
Datanya mendukung. Mengutip Badan Pusat Statistik (BPS), Rusdi menyebut penduduk Sulawesi Selatan berusia 20–29 tahun pada 2025 mencapai sekitar 1,61 juta jiwa. Jumlah itu, katanya, merupakan potensi besar yang perlu diterjemahkan menjadi kekuatan nyata bagi pembangunan daerah.
Potensi tersebut tidak akan berkembang optimal tanpa peningkatan kualitas pendidikan dan perluasan kesempatan berkarya. Pemuda Sulsel perlu didorong menjadi diplomat, ilmuwan, profesional internasional, pengusaha teknologi, hingga pelaku ekspor produk unggulan daerah.
Rusdi menyoroti sejumlah sektor yang bisa dikembangkan untuk memperluas jangkauan pasar internasional. Kakao, rumput laut, hasil perikanan, dan produk halal disebutnya sebagai komoditas yang layak diangkat oleh pengusaha muda Sulsel.
Untuk mewujudkannya, pemerintah daerah, perguruan tinggi, pesantren, organisasi kepemudaan, dan dunia usaha perlu membangun kerja sama yang lebih konkret. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar potensi generasi muda tidak berhenti pada wacana.
Bentuk kerja sama yang ditawarkan antara lain penyediaan beasiswa, penguasaan bahasa asing, pertukaran pelajar, magang profesional, serta pembukaan akses pasar global bagi pengusaha muda. Dengan begitu, generasi muda tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja dan penggerak ekonomi daerah.
Rusdi mengapresiasi kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang memberikan beasiswa kepada sejumlah pemuda untuk menempuh pendidikan di berbagai negara dengan kualitas pendidikan yang baik. Program seperti itu, menurutnya, perlu terus diperkuat agar semakin banyak generasi muda memperoleh pengalaman dan wawasan internasional.
Sebagai bagian dari Komisi Hubungan Luar Negeri MUI Sulsel, ia memandang kerja sama dengan negara-negara ASEAN, Jepang, kawasan Timur Tengah, dan mitra internasional lainnya perlu semakin diarahkan untuk membuka peluang bagi generasi muda. Hubungan internasional, katanya, tidak semestinya hanya berorientasi pada pertemuan antarlembaga atau kerja sama formal.
Lebih dari itu, hubungan tersebut harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Bagi Rusdi, di situlah semangat Sumpah Pemuda menemukan bentuk barunya di Sulawesi Selatan: bukan lagi soal merebut kemerdekaan, melainkan menyiapkan generasi yang siap berdiri di panggung dunia.