SULAWESI SELATAN — Total simpanan masyarakat di perbankan nasional menembus Rp10.513 triliun per September 2026, tumbuh 8,65% secara tahunan. Lembaga Penjamin Simpanan mencatat kenaikan merata di semua segmen saldo, dari tabungan kecil hingga di atas Rp5 miliar. Ekonom menilai lonjakan dana parkir ini belum tentu mencerminkan kesejahteraan yang membaik.
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menyampaikan pertumbuhan simpanan terjadi di seluruh lapisan saldo. Kelompok tabungan hingga Rp100 juta tumbuh 7,15% secara tahunan, disusul tabungan Rp100 juta hingga Rp200 juta sebesar 5,8%, dan Rp200 juta hingga Rp500 juta naik 4,21%.
Segmen paling besar, yakni simpanan di atas Rp5 miliar, justru mencatat pertumbuhan tertinggi mencapai 11,91% secara tahunan. Angka-angka itu dirilis dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK IV Tahun 2026 di Gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat.
"Secara agregat DPK itu tumbuh dan secara segmen juga semua segmen itu menunjukkan tingkat pertumbuhan," ujar Anggito.
Komposisi pertumbuhan itu menjadi sorotan para ekonom. Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai kenaikan tabungan tidak bisa langsung dibaca sebagai tanda kesejahteraan membaik.
Menurut Ronny, perlu dipastikan lebih dulu apakah lonjakan terjadi karena pendapatan riil warga bertambah atau karena masyarakat sengaja menahan konsumsi di tengah ketidakpastian ekonomi.
"Kenaikan tabungan masyarakat tidak otomatis berarti kesejahteraan meningkat. Kita perlu melihat konteksnya, terutama apakah kenaikan tersebut terjadi karena pendapatan riil masyarakat bertambah atau karena masyarakat memilih menahan konsumsi di tengah ketidakpastian ekonomi," kata Ronny.
Ia menyebut tabungan yang naik karena pendapatan bertambah, daya beli membaik, dan kebutuhan dasar sudah terpenuhi memang sinyal positif. Kondisi berbalik jika masyarakat membatasi belanja barang nonpokok atau menunda pembelian barang tahan lama karena khawatir soal kepastian kerja, pendapatan, hingga laju inflasi.
"Kalau tabungan naik karena masyarakat takut pendapatannya terganggu atau merasa tidak aman membelanjakan uangnya, itu merupakan sinyal kehati-hatian yang perlu diperhatikan pemerintah," ucapnya.
Pengamat Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyoroti sisi distribusi. Pertumbuhan tertinggi dinikmati kelompok bersaldo besar, sementara laju tabungan kelas menengah relatif melambat.
Yusuf merujuk Survei Konsumen Bank Indonesia yang menunjukkan porsi pendapatan untuk ditabung justru menurun, sedangkan porsi untuk konsumsi meningkat. Pola itu mengindikasikan banyak rumah tangga, khususnya kelas menengah, semakin sulit menyisihkan pendapatan karena biaya hidup terus naik.
"Data Survei Konsumen Bank Indonesia juga menunjukkan porsi pendapatan yang ditabung justru menurun, sementara porsi yang digunakan untuk konsumsi meningkat," tutur Yusuf.
Fenomena yang terjadi, menurutnya, adalah gabungan dua hal: sikap defensif kelompok atas yang memilih mengamankan dana di bank, plus tekanan daya beli yang dialami kelompok menengah-bawah.
Konsumsi rumah tangga adalah penopang utama Produk Domestik Bruto Indonesia. Jika tren menahan belanja berlangsung lama, efeknya merambat ke sejumlah sektor.
Yusuf menjelaskan sektor perdagangan biasanya paling dulu merasakan dampak melalui perlambatan penjualan. Dari sana efek menyebar ke manufaktur, investasi, hingga pasar tenaga kerja.
Pabrikan dan industri manufaktur akan menahan kapasitas produksi, mengurangi pembelian bahan baku, dan menunda rencana ekspansi usaha. Penyesuaian itu berpotensi menekan penyerapan tenaga kerja.
Di sisi lain, melimpahnya dana simpanan di perbankan tidak otomatis menjamin roda ekonomi berputar kencang. Dana yang mengendap hanya akan menjadi angka di neraca bank apabila permintaan kredit dari sektor riil tidak ikut menguat.
Bagi investor, sinyal ini perlu dibaca sebagai peringatan dini terhadap kinerja emiten ritel dan konsumer di kuartal mendatang. Pertumbuhan kredit perbankan juga layak dicermati, sebab likuiditas yang tebal tanpa penyaluran hanya menekan margin bunga bersih.