Lo Kheng Hong: IHSG Turun ke 5.000, Pasar Modal RI Sedang Hujan Emas

Penulis: Fauzan Arifin  •  Jumat, 06 November 2026 | 08:22:01 WIB
Investor saham Lo Kheng Hong menyampaikan pandangannya mengenai kondisi pasar modal Indonesia dalam acara CMSE 2026 di BEI, Kamis (5/11/2026).

SULAWESI SELATAN — Investor saham Lo Kheng Hong menilai penurunan IHSG dari 9.000 ke 5.000 membuat harga saham sangat murah dan undervalue. Di tengah aksi jual investor asing lebih dari Rp 100 triliun sejak awal tahun, ia menyebut pasar modal Indonesia sedang "hujan emas" dan meminta investor menyiapkan ember besar.

Penilaian itu disampaikan Lo Kheng Hong dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 yang digelar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (5/11/2026). Ia menilai tekanan jual investor asing telah menurunkan harga saham di BEI secara signifikan, dan kondisi tersebut justru membuka peluang bagi investor jangka panjang.

"Menurut saya, IHSG kita sudah turun dari 9.000 menjadi 5.000. Tentu harga saham menjadi sangat murah, under-value sangat murah," kata Lo Kheng Hong.

Aksi Jual Asing Lebih dari Rp 100 Triliun

Lo Kheng Hong menyoroti aksi jual investor asing yang mencapai lebih dari Rp 100 triliun sejak awal tahun. Arus keluar dana asing itu disebutnya sebagai faktor utama yang menekan harga saham di Bursa Efek Indonesia.

Bagi investor yang berorientasi jangka panjang, tekanan tersebut dinilai menciptakan kesempatan membeli saham berfundamental baik pada valuasi yang jauh di bawah nilai wajarnya.

Metafora Ember Besar untuk Menampung Hujan Emas

Lo Kheng Hong memakai metafora hujan emas untuk menggambarkan kondisi pasar saat ini. Menurutnya, ketika investor asing menjual saham karena ketakutan, harga saham turun banyak dan justru membuka peluang akumulasi.

"Bagi saya, ketika asing ketakutan menjual sahamnya di Bursa Efek Indonesia, saham-saham turun banyak. Bagi saya, di Bursa Efek Indonesia saat ini sedang hujan emas. Oleh karena itu, siapkanlah ember yang besar untuk menampung hujan emas itu," ungkapnya.

Yang Perlu Dicermati Investor Ritel

Pandangan Lo Kheng Hong berangkat dari pendekatan value investing, yakni membeli saham yang harganya jauh di bawah nilai intrinsiknya. Pendekatan itu menuntut kesabaran karena harga saham bisa tetap tertekan dalam jangka pendek.

Penurunan IHSG dari level 9.000 ke 5.000 mencerminkan koreksi tajam di pasar saham Indonesia. Bagi investor, momentum koreksi seperti ini biasanya dipakai untuk menyusun portofolio bertahap, bukan mengejar kenaikan jangka pendek.

Lo Kheng Hong tidak menyebut secara rinci saham-saham mana yang dinilai paling menarik pada kondisi pasar saat ini.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: ekbis.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top