SULAWESI SELATAN — Jakarta - Kegagalan membobol gawang Timnas Indonesia di Stadion Gelora Bung Karno pada putaran ketiga kualifikasi zona Asia menjadi tamparan keras bagi Australia. Hasil seri tanpa gol itu tidak hanya mencoreng reputasi Socceroos sebagai raksasa Asia, tetapi juga memicu krisis kepercayaan yang berujung pada mundurnya pelatih Graham Arnold.
Momen frustrasi itu justru menjadi berkah tersembunyi. Penunjukan Tony Popovic sebagai juru taktik baru langsung mengubah peta kekuatan tim. Alih-alih terpuruk, Australia justru bertransformasi menjadi mesin yang tak terkalahkan di sisa laga kualifikasi.
Popovic Sulap Skuad Jadi Lebih Ganas
Di bawah kendali Popovic, mentalitas bertarung Socceroos mengeras. Kemenangan emosional 1-0 atas Jepang di Perth dan hasil dramatis 2-1 di kandang Arab Saudi menjadi bukti kebangkitan mereka. Tim yang sempat kesulitan membongkar pertahanan rapat Indonesia kini tampil dengan karakter permainan yang jauh lebih dinamis.
"Kami belajar banyak dari laga melawan Indonesia. Itu adalah titik nadir, tapi juga awal dari perubahan total," ujar sumber internal tim kepada media Australia.
Skuad Matang dengan Kombinasi Pemain Muda dan Senior
Menatap Grup D Piala Dunia 2026—bersama tuan rumah Amerika Serikat, Turki, dan Paraguay—Popovic kini mengantongi skuad yang matang secara mental. Bek muda Parma, Alessandro Circati, tampil sebagai tembok kokoh berkat jam terbangnya di Serie A Italia. Sementara itu, pengalaman kiper Mathew Ryan di bawah mistar gawang dan ledakan kecepatan Nestory Irankunda di lini serang menjadi kombinasi maut.
Senjata Baru: Fleksibilitas Taktik dan Bola Mati
Secara taktis, Australia datang ke Piala Dunia bukan lagi sebagai tim monoton. Kolektivitas disiplin, keunggulan fisik dalam skema bola mati, serta fleksibilitas taktik yang ditanamkan Popovic menjadi senjata utama. Tim yang sempat dijinakkan Garuda kini siap menggila di panggung terbesar sepak bola dunia.