SULAWESI SELATAN — Kemenangan di Paris melambungkan Andreeva ke puncak peringkat 1 dunia junior. Ia menggenapi prediksi sebagai bakat terbesar tenis wanita setelah tampil dominan sepanjang turnamen.
Jaket Spesial dan Ucapan untuk Diri Sendiri
Saat mengangkat trofi, jaket Andreeva menyita perhatian. Bertuliskan "I want to thank myself", kalimat itu menjadi pembuka pidato kemenangannya yang tak biasa.
"Saya juga ingin berterima kasih kepada diri sendiri karena percaya pada diri saya sendiri," ujar Andreeva dalam konferensi pers, dikutip dari BBC. "Hanya saya yang tahu betapa sulitnya dua pekan ini dan betapa gugupnya saya. Jadi terima kasih untuk saya karena bekerja keras dan memberikan yang terbaik."
Kebiasaan unik ini terinspirasi dari rapper Snoop Dogg. "Awalnya saya hanya bilang agar semua orang tertawa," canda Andreeva. "Tapi kemudian saya sadar: kenapa tidak berterima kasih pada diri sendiri? Karena Andreevalah yang bekerja, yang melakukan pekerjaan, yang merasakan semua kegugupan."
Mengatasi Ledakan Emosi dengan 'Rambu Berhenti'
Perjalanan Andreeva menuju gelar ini tidak mulus. Ia dikenal sering kehilangan fokus akibat ledakan emosi di lapangan. Setahun lalu, ia hancur di perempat final Roland Garros melawan Lois Boisson di hadapan pendukung tuan rumah. Beberapa bulan lalu, ia memukul raket dan memaki penonton di Indian Wells.
Namun, di turnamen ini, sikapnya berubah drastis. Bahkan di final melawan Chwalinska yang tak terduga dan kondisi angin kencang, Andreeva tetap tenang. Ia mengaku dibantu psikolognya, Alexis Castorri, yang pernah bekerja dengan Andy Murray.
"Psikolog saya bilang, 'Bayangkan rambu berhenti besar' saat emosi mulai muncul," kata Andreeva. "Saya memilih menjadi pejuang. Saya banyak menonton pertandingan Roger Federer di sini. Tidak akan ada yang punya aura yang sama, tapi saya benar-benar ingin meniru cara dia bersikap di lapangan."
Momen Spesial Bersama Pelatih Conchita Martinez
Orang pertama yang dipeluk Andreeva setelah meraih kemenangan adalah pelatihnya, Conchita Martinez. Mantan finalis Prancis Terbuka 2000 itu telah membimbing Andreeva meraih lima gelar WTA sejak bergabung pada 2024.
"Kami telah melalui begitu banyak momen baik dan buruk, terutama di akhir tahun lalu," ungkap Andreeva yang sempat kesulitan performa setelah mencapai perempat final Wimbledon. "Dia bilang dia sangat bangga padaku. Mendengar kata-kata itu darinya sangat spesial bagiku."
Hubungan mereka tidak hanya profesional. Di luar lapangan, mereka sering bermain Uno dan bercanda. Martinez bahkan mendapat dukungan kreatif dari Andreeva saat tampil di pertandingan undangan Wimbledon tahun lalu—lengkap dengan topi jerami bertema tenis dan spanduk buatan tangan bertuliskan 'Ayo Senorita'.
Belum Puas, Incar Gelar Kedua
Andreeva menjadi pemain pertama kelahiran setelah 2005 yang meraih trofi Grand Slam. Musim ini, ia memenangkan 22 dari 25 pertandingan di lapangan tanah liat—catatan terbanyak di tur WTA.
Maria Sharapova, wanita Rusia terakhir yang memenangkan gelar mayor tunggal, memuji Andreeva di Instagram. "Tanda-tanda seorang juara. Bangga padamu Mirra Andreeva. Perayaannya mengatakan segalanya. Bersemangat, tapi belum puas."
Andreeva menggemakan sentimen itu. "Saya sudah memikirkan bagaimana mempersiapkan musim rumput. Saya merasa hal ini sedikit membuat ketagihan. Saya benar-benar ingin melakukan yang terbaik untuk mengalami semua ini untuk kedua kalinya," pungkasnya.