Pencarian

Kepala BPOM Taruna Ikrar Dorong Kolaborasi Mikrobioma ASEAN dari Sunway University Malaysia

Sabtu, 03 Oktober 2026 • 13:16:02 WIB
Kepala BPOM Taruna Ikrar Dorong Kolaborasi Mikrobioma ASEAN dari Sunway University Malaysia
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menghadiri forum Inaugural Malaysia Microbiome Meeting (MMM) 2026 di Sunway University, Selangor, Malaysia.

SELANGOR — Kunjungan kerja Kepala BPOM RI Taruna Ikrar ke Sunway University menjadi langkah diplomasi kesehatan yang menyasar penguatan posisi Indonesia di kancah global. Dalam forum Inaugural Malaysia Microbiome Meeting (MMM) 2026, ia menekankan kedekatan sejarah, budaya, ekonomi, dan ilmu pengetahuan antara Indonesia dan Malaysia sebagai fondasi kerja sama.

Menurut Taruna, kedekatan itu membuka peluang besar untuk memperdalam kerja sama microbiome science dan regulatory science, khususnya dalam konteks ASEAN dan Asia-Pasifik.

"Indonesia dan Malaysia memiliki kedekatan sejarah, budaya, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kondisi ini membuka peluang besar untuk memperdalam kerja sama microbiome science dan regulatory science, khususnya dalam konteks ASEAN dan Asia-Pasifik," tegas Taruna Ikrar.

Mengapa Mikrobioma Disebut Masa Depan Dunia Kesehatan

Ilmu hayati modern menempatkan mikrobioma sebagai salah satu bidang paling menjanjikan. Kajian ini mengubah cara pandang peneliti terhadap kesehatan manusia.

Riset ilmiah tidak lagi berfokus pada sel dan organ tubuh semata, melainkan meneliti interaksi kompleks antara tubuh manusia dengan triliunan mikroorganisme. Perkembangan riset mikrobioma membuka jalan baru dalam menangani penyakit infeksi, gangguan metabolik, masalah gastrointestinal, penyakit sistem imun, hingga onkologi.

Data Grand View Research memperkuat proyeksi tersebut. Pasar global terapi berbasis mikrobioma bakal mencapai US$255,1 juta pada tahun 2026 dan berpotensi melonjak hingga menembus US$1,06 miliar pada 2030. Lonjakan angka ini mencerminkan tingginya investasi serta pesatnya kolaborasi riset di tingkat internasional.

Regulator Diminta Hadir Sejak Awal, Bukan Setelah Produk Jadi

Taruna mengingatkan bahwa inovasi ilmiah wajib berjalan berdampingan dengan penguatan ilmu regulasi. Regulator harus memastikan setiap produk berbasis mikrobioma memiliki bukti ilmiah yang kuat, mulai dari identitas, kemurnian, potensi, stabilitas, keamanan, hingga efektivitas klinisnya.

"Regulatory science harus berkembang sejalan dengan inovasi ilmiah. Hasilnya, regulator mampu melindungi masyarakat dan menjaga mutu produk, sekaligus menciptakan iklim inovasi yang bertanggung jawab," tambahnya.

Konsep ABG: Kampus, Industri, dan Pemerintah dalam Satu Ekosistem

Lawatan ke Sunway University juga memperkokoh penerapan konsep ABG (Academic, Business, and Government) yang terus diusung BPOM. Konsep ini menyatukan tiga kekuatan utama:

  • Perguruan tinggi dan peneliti sebagai sumber ilmu pengetahuan.
  • Dunia usaha sebagai penggerak inovasi dan hilirisasi produk.
  • Pemerintah sebagai regulator dan fasilitator yang menjamin keselamatan publik.

Taruna menegaskan pengembangan mikrobioma membutuhkan ekosistem ABG secara nyata. Temuan laboratorium dari kampus harus menemukan jalan menuju industri komersial. Regulator wajib hadir sejak awal untuk memastikan produk memenuhi standar mutu dan khasiat.

"Inovasi tidak boleh berhenti di dalam laboratorium. Melalui konsep ABG, ilmu pengetahuan harus bertemu dengan industri dan regulasi. Dengan demikian, hasil riset dapat berubah menjadi produk nyata yang aman, bermutu, serta berdaya saing bagi masyarakat," jelas Taruna.

Apa Langkah Konkret Indonesia-Malaysia Selanjutnya

Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Indonesia dan Malaysia dapat meluncurkan program riset bersama, pertukaran ilmuwan, peningkatan kapasitas SDM, serta sinkronisasi standar regulasi. Taruna juga mengajak generasi muda, mahasiswa, dan peneliti milenial untuk mengambil peran aktif dalam pengembangan ilmu mikrobioma.

Kepala BPOM menyambut hangat kehadiran Sunway Microbiome Centre di bawah pimpinan Prof. Low Teck Yew. Ia menilai pusat riset tersebut sebagai tonggak penting bagi ekosistem sains di kawasan ASEAN.

Dalam kunjungan ini, sejumlah pejabat mendampingi Taruna Ikrar, antara lain Direktur Registrasi Obat BPOM RI Tri Asti Isnariani, Kepala Bagian Rumah Tangga BPOM RI Ardiansyah, dan Staf Khusus Kepala BPOM RI Wachyudi Muchsin. Turut hadir pula Ketua Dharma Wanita Persatuan BPOM RI, Elfi Ikrar.

"Tidak ada satu institusi atau negara yang sanggup membangun ekosistem mikrobioma secara mandiri. Maka dari itu, kolaborasi harus menjadi fondasi utama agar kemajuan ilmu pengetahuan memberi manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat," pungkasnya.

Follow sulseldaily.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: berita-sulsel.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks