WAJO — Ahmad Ikram, kader HMI Cabang Wajo, menyoroti menurunnya minat mahasiswa untuk bergabung dan berproses di organisasi ekstra kampus. Menurut dia, fenomena itu kerap langsung dilabeli sebagai sikap apatis generasi muda. Padahal, kata Ikram, persoalannya tidak sesederhana itu.
Mahasiswa hari ini tumbuh pada zaman yang berbeda dari angkatan sebelumnya. Ruang untuk belajar, membangun jaringan, dan mengembangkan diri kini terbuka lebar di luar organisasi. Organisasi kampus bukan lagi satu-satunya pilihan.
Dari situ, pertanyaan yang menurut Ikram lebih penting bukan lagi mengapa mahasiswa enggan berorganisasi. Pertanyaannya bergeser menjadi apa yang membuat mereka harus berorganisasi.
Organisasi sebagai Ruang Belajar Berpikir dan Memimpin
Ikram menilai organisasi tetap punya peran yang tidak tergantikan dalam kehidupan mahasiswa. Di dalamnya, mahasiswa belajar berpikir, berdiskusi, berbeda pendapat, memimpin, bekerja bersama, dan memahami persoalan masyarakat.
Ia menempatkan HMI sebagai salah satu ruang yang semestinya mengambil peran itu. Menurut dia, HMI tidak cukup dikenal lewat atribut, struktur, atau kegiatan rutinnya saja.
"HMI harus menjadi ruang perkaderan yang membuat mahasiswa tumbuh secara intelektual, membangun karakter, dan memiliki kepekaan terhadap persoalan keumatan dan kebangsaan," kata Ikram.
Tidak Perlu Pintar Dulu untuk Masuk Organisasi
Ikram menegaskan bahwa mahasiswa tidak dituntut sudah pintar sebelum masuk organisasi. Justru alasan berorganisasi adalah untuk belajar menjadi lebih baik.
Mahasiswa yang awalnya takut berbicara bisa belajar menyampaikan gagasan. Mereka yang belum terbiasa membaca bisa mulai mengenal berbagai pemikiran. Yang belum pernah memimpin bisa belajar bertanggung jawab.
Semua kemampuan itu, menurut Ikram, tidak lahir secara instan. Ada proses panjang yang harus dijalani, termasuk menghadapi perbedaan pendapat dan kekecewaan.
Konflik Internal Bagian dari Pendewasaan
Ikram tidak menampik bahwa organisasi tidak pernah sempurna. Perbedaan, kritik, konflik, bahkan kekecewaan bisa muncul di dalamnya.
Namun ia menilai justru dari proses itulah kedewasaan mahasiswa dibentuk. Pengalaman menghadapi gesekan internal menjadi bekal yang sulit didapat di ruang lain.
Karena itu, ia mengajak mahasiswa baru untuk tidak buru-buru menutup diri dari organisasi. Datang, berdiskusi, dan kenali prosesnya sebelum menentukan pilihan.
"Jangan bergabung hanya karena ajakan teman. Tetapi jangan pula menolak hanya karena mendengar cerita orang lain," ujar Ikram.
Perekrutan Bukan Satu-satunya Jalan
Ikram menilai jika organisasi mulai sepi peminat, yang perlu dibenahi bukan sekadar memperbanyak perekrutan anggota. Yang lebih mendesak adalah menghidupkan kembali ruang diskusi, budaya membaca, berpikir kritis, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia percaya mahasiswa tidak kehilangan idealisme. Yang mereka butuhkan adalah ruang yang mampu mengarahkan idealisme itu menjadi tindakan nyata.
Bagi Ikram, HMI masih layak menjadi salah satu ruang tersebut. Bukan karena HMI sempurna, tetapi karena organisasi ini dinilai masih bisa menjadi tempat mahasiswa belajar, bertumbuh, dan menemukan hal yang ingin diperjuangkan.
Ia menutup dengan ajakan sederhana kepada mahasiswa agar tidak menghabiskan masa kuliah hanya untuk mengejar nilai dan menunggu wisuda. Membaca, berdiskusi, dan berpikir kritis disebutnya sebagai bagian dari proses menjadi mahasiswa seutuhnya.