SULAWESI SELATAN — Kendaraan listrik menawarkan torsi instan dan komponen bergerak lebih sedikit dibanding SUV bermesin bensin saat melibas medan off-road. Namun jangkauan baterai yang terbatas di jalur terpencil masih menjadi penghalang utama bagi penggemar ekspedisi jarak jauh. Perdebatan soal mana yang lebih unggul di medan berat kini bergeser dari sekadar bensin versus diesel.
Perdebatan soal kendaraan mana yang paling tangguh di medan off-road sudah berlangsung puluhan tahun. Dulu, pilihannya hanya antara mesin bensin dan diesel. Kini, SUV listrik seperti Rivian R1S dan R1T yang diperkenalkan pada 2021 ikut masuk dalam perbincangan. Kehadiran kendaraan listrik mengubah peta persaingan, bukan sekadar menambah opsi baru.
Torsi Instan Tanpa Perlu Atur Putaran Mesin
Di medan berupa ruts dalam, batu besar, dan tanah lepas, kunci utama adalah torsi, yakni tenaga yang memutar roda. Pada kendaraan bermesin pembakaran, pengemudi harus mengatur gigi dan putaran mesin agar torsi maksimal keluar di titik yang tepat. Kesalahan mengatur gigi bisa membuat kendaraan terjebak atau komponen rusak.
Motor listrik tidak membutuhkan proses itu. Torsi maksimal langsung tersedia begitu pedal akselerator ditekan, bahkan dari posisi berhenti. Tidak ada waktu tunggu untuk mencapai putaran ideal, sehingga kendaraan listrik lebih responsif saat menaklukkan tanjakan berbatu atau lumpur tebal.
Empat Motor Listrik Menggantikan Transfer Case dan Differential Lock
Pada SUV konvensional, kemampuan merayap di medan berat bergantung pada perangkat seperti four-wheel low, four-wheel high, transfer case, dan locking differential. Rangkaian itu cukup rumit dan menambah bobot kendaraan. Kendaraan listrik menggantinya dengan konfigurasi motor per roda.
GMC Hummer EV memakai tiga motor listrik, sedangkan Rivian R1 mengandalkan empat motor. Konfigurasi tersebut memungkinkan pengiriman torsi ke roda tertentu secara presisi sesuai kebutuhan. Hasilnya, kemampuan crawling di medan sulit bisa dicapai dengan perangkat mekanis yang jauh lebih sederhana.
Jangkauan Baterai Jadi Batas Keras di Jalur Terpencil
Masalah jangkauan masih menjadi titik lemah kendaraan listrik. Untuk pemakaian harian, jarak di bawah 300 kilometer dengan charger Level 2 di rumah biasanya cukup. Persoalan muncul ketika kendaraan masuk ke jalur off-road jauh dari jaringan listrik. Tidak ada cara andal untuk mengisi ulang daya di tengah hutan atau pegunungan.
SUV bensin dan diesel punya solusi praktis: membawa jeriken bahan bakar cadangan. Cadangan itu bisa menambah jarak tempuh saat ekspedisi panjang. Kalau kehabisan bensin di pelosok, pengemudi masih bisa menuang cadangan untuk mencapai jalan raya terdekat. Pada kendaraan listrik, opsi semacam ini tidak tersedia. Menukar baterai di lokasi terpencil bukan prosedur yang lazim, dan belum tentu ada stasiun pengisian dalam jangkauan.
Batas jarak tempuh ini juga terpengaruh kondisi awal pengisian. Pengemudi yang berangkat dari rumah dengan baterai penuh pun tetap menghadapi keterbatasan setelah seharian menempuh jalur berat. Bukan masalah yang mustahil diatasi, tetapi tidak bisa diabaikan begitu saja.
Komponen Bergerak Sedikit, Risiko Kerusakan Lebih Kecil
Kendaraan listrik punya keunggulan struktural: jumlah komponen bergerak jauh lebih sedikit dibanding mesin pembakaran internal. Tidak ada poros engkol, piston, katup, atau sabuk penggerak yang bisa aus atau patah di medan kasar. Rangkaian penggerak yang sederhana membuat potensi kerusakan mekanis di lapangan menurun.
SUV bensin dan diesel tetap punya penggemar setia karena kemudahan perawatan dan ketersediaan suku cadang di mana-mana. Namun, dari sisi jumlah titik rawan rusak, kendaraan listrik menawarkan keunggulan yang nyata di medan off-road.
Mana yang Lebih Cocok untuk Penggunaan di Indonesia
Untuk pengguna di Indonesia yang sering menjelajah jalur off-road seperti di Jawa Barat atau Sumatera, infrastruktur pengisian daya di area terpencil masih menjadi pertimbangan utama. SUV bensin dan diesel masih lebih praktis untuk ekspedisi jarak jauh yang melewati wilayah tanpa jaringan listrik.
Kendaraan listrik lebih masuk akal untuk pemakaian campuran harian dan off-road ringan di sekitar kota, dengan pengisian daya dilakukan di rumah. Selama baterai masih terbatas dan stasiun pengisian belum merata, dominasi SUV bermesin pembakaran di jalur ekspedisi berat belum tergantikan sepenuhnya.