SULAWESI SELATAN — Pangsa pasar perbankan syariah Indonesia menyusut dari 7,72% pada Desember 2024 menjadi 7,36% per Juni 2026, meski nilai aset, pembiayaan, dan dana pihak ketiga terus bertambah secara nominal. Penurunan terjadi di tengah janji menjadikan Indonesia pusat ekonomi syariah dunia yang mencuat sejak debat calon wakil presiden 2024. Peringkat Indonesia dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026 juga melorot dari posisi ketiga ke peringkat keempat.
Data OJK dan catatan CSED INDEF menunjukkan laju ekspansi perbankan syariah kalah cepat dibanding perbankan konvensional. Nilai nominal aset, pembiayaan, dan DPK memang naik, tetapi proporsinya terhadap total industri perbankan nasional justru mengecil.
Fenomena itu menandakan penetrasi pasar melambat. Indeks literasi dan inklusi keuangan syariah belum beranjak dari persoalan klasik: masyarakat mengenal labelnya, tetapi tidak memakai produknya.
Ekspektasi besar muncul setelah Gibran Rakabuming Raka melontarkan pertanyaan soal State of the Global Islamic Economy dalam debat cawapres menjelang Pemilu 2024. Istilah itu langsung ramai dibahas, termasuk oleh Erick Thohir yang kala itu memimpin Masyarakat Ekonomi Syariah.
Dua tahun kemudian, laporan DinarStandard edisi 2025/2026 menempatkan Indonesia di peringkat keempat dunia, turun satu tingkat dari posisi ketiga. Penurunan ini bukan soal gengsi angka semata, melainkan cermin persoalan struktural yang belum tersentuh.
Tekanan makroekonomi memperberat kondisi tersebut. IHSG terkoreksi 28,34% per 24 Juli 2026, disertai net sell asing Rp79,09 triliun. Koreksi itu tak lepas dari