RSK Nusa Waluya II Berlabuh di Kei Besar, Layani 6.000 Pasien

Penulis: Fauzan Arifin  •  Rabu, 04 November 2026 | 08:23:01 WIB
RSK Nusa Waluya II berlabuh di Kei Besar, Maluku Tenggara, untuk melayani masyarakat sejak 8 September 2026.

SULAWESI SELATAN — PT Pertamina International Shipping (PIS) mengoperasikan Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II di Pulau Kei Besar, Maluku Tenggara, sejak 8 September hingga 8 November 2026, dengan sekitar 6.000 pasien telah dilayani. Kehadiran kapal ini menjawab keterbatasan fasilitas kesehatan di salah satu pulau kecil terluar Indonesia yang belum memiliki rumah sakit dengan dokter spesialis.

Pulau Kei Besar dikenal memiliki jumlah penduduk cukup banyak dengan wilayah geografis berbukit dan permukiman yang tersebar. Namun, ketersediaan rumah sakit dengan dokter spesialis di sana masih sangat terbatas.

Kondisi itu membuat sebagian warga harus menyeberang ke Kei Kecil untuk mendapatkan layanan kesehatan yang lebih lengkap. Perjalanan antarpulau memakan waktu dan biaya, dua kendala yang memberatkan sebagian masyarakat.

Mengapa Kei Besar Dipilih

Direktur Rumah Sakit Kapal Nusa Waluya II Tasia Risma Lidya mengatakan, Kei Besar dipilih berdasarkan hasil survei dan peninjauan terhadap kondisi fasilitas kesehatan serta kebutuhan masyarakat setempat.

"Di Kei Besar dengan jumlah penduduk yang banyak dan geografis yang sangat luas, tidak ada rumah sakit yang memiliki dokter spesialis. Ada rumah sakit PPD, tetapi sumber daya manusianya masih sangat kurang," ujar Tasia, saat ditemui di RSK Nusa Waluya II, Kei Besar, Maluku Tenggara, Selasa (3/11/2026).

RSK Nusa Waluya II merupakan kolaborasi Pertamina Group bersama Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE). Kapal ini membawa fasilitas setara rumah sakit umum daerah tipe C.

Layanan Setara RS Tipe C

Fasilitas yang tersedia mencakup poliklinik, rawat inap, unit gawat darurat, ruang operasi, radiologi, laboratorium, hingga farmasi. Menurut Tasia, seluruh kebutuhan obat ditangani langsung dari kapal.

"Untuk farmasi itu obatnya semua kita handle dari kapal, untuk stok segala macam, dan ada ruang operasi. Ruang operasi kita ada dua ruang operasi mayor," tuturnya.

Dengan kelengkapan itu, warga Kei Besar tidak perlu lagi menyeberang pulau hanya untuk operasi mayor atau pemeriksaan penunjang seperti radiologi dan laboratorium.

6.000 Pasien, Tertinggi Sejak Kerja Sama Dimulai

Pjs Manager CSR Pertamina International Shipping Gustidha Budiartie menyebut, hingga saat ini RSK Nusa Waluya II telah melayani sekitar 6.000 pasien di Kei Besar. Angka itu menjadi capaian tertinggi selama Pertamina bekerja sama dengan doctorSHARE dalam program rumah sakit kapal.

"Data pasiennya tadi sudah mencapai 6.000. Ini tertinggi sejak kita bekerja sama, mungkin bisa menyentuh 10.000," terangnya.

Kerja sama PIS dengan doctorSHARE telah berjalan tiga tahun. Pada tahun-tahun sebelumnya, rumah sakit kapal hadir di Waigeo dan Distrik Seget, Sorong, dengan total 7.469 pasien yang telah mendapat layanan.

Gustidha menjelaskan, program ini berangkat dari kesadaran bahwa konektivitas menjadi faktor penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di wilayah kepulauan yang sulit dijangkau lewat transportasi darat.

"Jadi konektivitas ini penting dalam kehidupan bermasyarakat Indonesia, baik dalam menyalurkan energi maupun menyediakan akses kesehatan seperti yang dilakukan oleh doctorSHARE," ucapnya.

Kapabilitas Maritim untuk Layanan Publik

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang transportasi laut, PIS memanfaatkan kapabilitas perkapalan untuk mendukung akses kesehatan di pulau-pulau kecil. Sinergi ini melibatkan Pertamina, IHC, dan doctorSHARE.

Armada kapal tidak hanya mendukung konektivitas antarpulau, tetapi juga menjadi sarana menjangkau masyarakat yang membutuhkan layanan medis. Bagi PIS, langkah itu sekaligus memperluas fungsi armadanya di luar pengangkutan energi.

Program rumah sakit kapal dijadwalkan berlangsung hingga 8 November 2026. PIS berharap jumlah pasien yang terlayani bisa menembus 10.000 orang sebelum periode operasi di Kei Besar berakhir.

Bagi warga di pulau kecil terluar, kehadiran kapal ini memangkas jarak dan biaya yang selama ini menjadi penghalang utama untuk berobat. Di sisi lain, capaian 6.000 pasien menunjukkan kebutuhan layanan spesialis di kawasan kepulauan masih jauh lebih besar dari yang tersedia di darat.

Reporter: Fauzan Arifin
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top