Pencarian

Vale Indonesia Catat Produksi Nikel Matte 18.341 Ton di Triwulan III 2026, Tertinggi Sepanjang Tahun

Sabtu, 31 Oktober 2026 • 15:46:01 WIB
Vale Indonesia Catat Produksi Nikel Matte 18.341 Ton di Triwulan III 2026, Tertinggi Sepanjang Tahun
Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto menyampaikan capaian produksi triwulan III 2026.

LUWU — Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto menyampaikan bahwa capaian produksi triwulan III 2026 mencerminkan keberhasilan Perseroan menjaga keandalan operasional. Perseroan menargetkan konsistensi produksi tetap terjaga hingga triwulan terakhir tahun ini.

Selain produksi nikel matte, penjualan bijih nikel dari dua blok operasi Perseroan turut memperluas sumber pendapatan. Blok Bahodopi mencatat penjualan 415.000 wet metric tons (wmt) pada 3T26, sementara Blok Pomalaa membukukan 1.314.358 wmt pada periode yang sama.

Penjualan Bijih Nikel Pomalaa Melonjak dari 495.601 wmt ke 1.314.358 wmt

Kenaikan penjualan Blok Pomalaa terbilang tajam dibanding triwulan II 2026 yang tercatat 495.601 wmt. Adapun Blok Bahodopi turun dari 1.074.665 wmt pada 2T26 menjadi 415.000 wmt pada 3T26.

Secara total, penjualan bijih nikel dari kedua blok mencapai sekitar 1,73 juta wmt pada triwulan III 2026. Selama sembilan bulan pertama 2026, penjualan Bahodopi mencapai 2.375.759 wmt dan Pomalaa 1.898.943 wmt.

"Secara keseluruhan, penjualan bijih nikel dari kedua blok ini mencapai sekitar 1,73 juta wmt pada 3T26," kata Bernardus.

Pengiriman Nikel Matte Naik jadi 20.158 Ton, Pendapatan Triwulanan Capai AS$353 Juta

Pengiriman nikel matte meningkat menjadi 20.158 ton pada 3T26, dibanding 13.932 ton pada triwulan sebelumnya. Kenaikan volume pengiriman membantu mengimbangi kondisi harga nikel yang masih menghadapi tantangan.

Rata-rata harga realisasi nikel matte tercatat AS$14.765 per ton pada triwulan sebelumnya. Meski demikian, pendapatan Perseroan pada 3T26 mencapai AS$353 juta, naik dari AS$290 juta pada 2T26.

"Kenaikan ini terutama didukung volume pengiriman nikel matte yang lebih tinggi, serta kontribusi yang terus bertumbuh dari penjualan bijih nikel di operasi Bahodopi dan Pomalaa," ujar Bernardus.

Secara year-to-date, pendapatan Vale Indonesia mencapai AS$896 juta atau meningkat 27% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Biaya Tunai Naik Moderat jadi AS$10.404 per Ton akibat Konsumsi Energi

Di sisi biaya, unit cash cost of sales nikel matte meningkat moderat menjadi AS$10.404 per ton pada 3T26 dari AS$10.005 per ton pada 2T26. Kenaikan tersebut mencerminkan bertambahnya biaya dan konsumsi energi selama triwulan berjalan.

Konsumsi Marine Fuel Oil (MFO) dan batubara masing-masing naik 6% dan 12% sejalan dengan tingginya aktivitas operasional di area penambangan dan pengolahan. Kedua komoditas itu juga mengalami kenaikan harga rata-rata dibanding triwulan sebelumnya.

"Di sisi lain, biaya diesel relatif stabil, sehingga membantu mengimbangi peningkatan tingkat konsumsi," kata Bernardus.

Perseroan menyatakan terus memperkuat efisiensi melalui penggunaan input utama yang lebih hemat, serta pengelolaan beban SG&A dan biaya tetap secara disiplin.

Hilirisasi Pomalaa Capai Mechanical Completion Pertama

Vale Indonesia juga mencatat kemajuan dalam realisasi strategi hilirisasi. Perseroan mencapai mechanical completion pertama untuk Line 1 dan Line 2 proyek HPAL Pomalaa.

Bernardus menyebut capaian itu sebagai milestone penting dalam pengembangan bisnis hilir Perseroan. Meski harga nikel berada dalam kondisi lebih rendah pada 3T26, Vale Indonesia membukukan EBITDA sebesar AS$101 juta.

"Hasil ini juga mencerminkan manfaat dari pengembangan portofolio produksi dan penjualan Vale Indonesia yang semakin beragam," kata Bernardus.

Follow sulseldaily.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ritmee.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks