SULAWESI SELATAN — Rasa percaya diri anak terbentuk dari cara orang tua merespons kesalahan dan keberhasilannya setiap hari. Tanpa disadari, tujuh kebiasaan pengasuhan berikut justru bisa membuat anak tumbuh ragu pada kemampuannya sendiri, dan ini cara menghindarinya.
Psikolog anak asal Amerika Serikat, David Friedlander, Psy.D., menyebut kecemasan pada anak perlu diperhatikan sejak dini. Lingkungan sekolah memang berpengaruh, tetapi pola asuh di rumah punya andil besar terhadap cara anak memandang dirinya.
Friedlander menjelaskan, rendahnya kepercayaan diri anak dipengaruhi kombinasi faktor biologis dan pengalaman hidup. Faktor biologis mencakup gen, paparan selama di dalam kandungan, serta asupan nutrisi.
"Faktor-faktor ini turut membentuk temperamen anak, yang dapat membuatnya cenderung lebih berhati-hati atau memiliki sifat perfeksionis," ujar Friedlander seperti dikutip dari Parade.
Faktor pengalaman meliputi interaksi sosial, proses belajar, lingkungan keluarga, serta pengalaman buruk atau traumatis selama masa kanak-kanak. Kombinasi kedua kategori inilah yang membentuk kepribadian anak seiring bertambahnya usia.
Anak yang punya kecenderungan terlalu berhati-hati, lalu terus-menerus dikritik setiap kali salah, berisiko lebih besar memiliki rasa percaya diri rendah. Sebaliknya, anak yang mendapat apresiasi atas usahanya dan diberi pemahaman bahwa kesalahan itu wajar bisa mengatasi kecenderungan bawaan tersebut.
Sikap ini tampak seperti bentuk kasih sayang, tapi diam-diam menggerus kepercayaan diri anak. Dengan selalu menuruti keinginannya, orang tua tanpa sadar membenarkan kekhawatiran anak bahwa dirinya tidak mampu menghadapi hal yang ditakutinya.
Anak pun kehilangan kesempatan untuk melewati dan mengelola kecemasannya sendiri. Padahal, kemampuan itu hanya terbentuk lewat pengalaman nyata menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman.
Pola asuh ini ditandai dengan perilaku orang tua yang selalu menyingkirkan hambatan di hadapan anak, padahal anak sebenarnya mampu mengatasinya sendiri. Akibatnya, anak tumbuh kurang mandiri dan terbiasa berpikir bahwa orang lain akan menyelesaikan semua masalahnya.
Contohnya, ketika anak tertinggal dalam mengerjakan tugas sekolah, orang tua justru menghubungi guru untuk meminta agar tugas tersebut diringankan. Pesan yang tertangkap anak: ibunya tidak yakin ia sanggup menyelesaikannya.
Tuntutan berlebihan muncul dalam banyak bentuk, mulai dari mengharapkan nilai akademik yang selalu sempurna hingga memaksa anak menguasai banyak keterampilan sekaligus. Anak yang selalu dituntut sempurna lebih berpotensi menunjukkan tanda rendah harga diri saat remaja hingga dewasa.
Tekanan ini juga berdampak pada kehidupan anak ketika besar, terutama dalam interaksi sosial dan cara bersikap di lingkungan kerja.
Kritik yang datang terus-menerus membuat anak mengaitkan dirinya dengan kekurangan, bukan dengan usaha yang sudah dilakukannya. Friedlander menyebut orang tua yang terlalu sering mengkritik sebagai salah satu pemicu utama rendahnya harga diri anak.
Kritik memang perlu, tapi pilih momen dan sasarannya. Soroti perilakunya, bukan pribadinya, dan imbangi dengan pengakuan atas hal yang sudah ia kerjakan dengan baik.
Hukuman atas kegagalan membuat anak mengaitkan kesalahan dengan rasa takut, bukan dengan proses belajar. Ia jadi lebih sibuk menghindari murka orang tua daripada memperbaiki cara kerjanya.
Friedlander menempatkan kebiasaan menghukum anak ketika gagal sebagai bagian dari pola asuh yang berkontribusi pada rendahnya kepercayaan diri. Anak butuh ruang untuk salah, lalu dibantu memahami apa yang bisa diperbaiki.
Sejumlah orang tua fokus pada kekurangan dan lupa menyadari keberhasilan anak. Padahal, apresiasi atas usaha adalah sinyal bahwa jerih payahnya terlihat dan berarti.
Tanpa pengakuan itu, anak belajar bahwa apa pun yang ia lakukan tidak cukup. Lama-kelamaan ia berhenti mencoba karena merasa hasilnya tidak akan dihargai.
Menyelamatkan anak dari situasi yang sebenarnya bisa ia hadapi sendiri menyampaikan pesan bahwa orang tua tidak yakin anak mampu menyelesaikan masalah dan mengelola emosinya. Kebiasaan ini terlihat membantu, tapi menghambat tumbuhnya kemandirian.
Friedlander menegaskan, terus-menerus mendorong anak atau bahkan menyelesaikan masalah mereka justru tidak selalu memberi hasil yang diharapkan. Beri anak kesempatan mencoba dulu, dampingi saat ia meminta bantuan.
Orang tua tidak harus menunggu masalah membesar. Bila anak menunjukkan rasa takut berlebihan saat harus mencoba hal baru, menarik diri dari teman sebaya, atau terus-menerus merendahkan dirinya, pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog anak.
Langkah ini bukan tanda kegagalan pengasuhan. Justru sebaliknya, semakin cepat pola yang kurang tepat dikenali, semakin besar peluang anak tumbuh dengan rasa percaya diri yang sehat.
Membentuk kepercayaan diri anak tidak menuntut orang tua sempurna. Yang dibutuhkan adalah konsistensi untuk mengapresiasi usaha, membiarkan anak mencoba, dan memisahkan kritik terhadap perilaku dari penilaian atas pribadinya.