GOWA — Aksi penanaman 62 pohon di kawasan wisata alam Malino, Kabupaten Gowa, menjadi pembuka rangkaian orientasi dan outbound pengurus DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan. Jumlah 62 pohon dipilih sebagai simbol peringatan usia Partai Golkar. Kegiatan itu dipimpin langsung Ketua DPD Golkar Sulsel Ilham Arief Sirajuddin.
Mengapa Beringin yang Dipilih, Bukan Jenis Pohon Lain
Jenis pohon yang ditanam bukan tanpa alasan. Golkar Sulsel memilih beringin karena dinilai punya fungsi ekologis penting bagi keseimbangan ekosistem.
Menurut IAS, pohon beringin berperan membantu mempertahankan ketersediaan sumber air. Kawasan Malino sendiri dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam unggulan di Kabupaten Gowa yang bergantung pada kelestarian lingkungan sekitarnya.
"Pohon beringin ini manfaatnya luar biasa, dari akar sampai daunnya. Dengan penanaman ini, kami berharap bisa menjaga kelestarian sumber air yang ada di Malino dan sekitarnya," kata IAS usai kegiatan penanaman pohon.
Bukan Seremoni Usia Partai, tapi Komitmen Kader
Angka 62 pada jumlah pohon memang merujuk pada usia Partai Golkar. Namun Golkar Sulsel menegaskan penanaman itu tidak berhenti sebagai perayaan organisasi.
IAS menyebut kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen kader Golkar untuk ikut menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Malino dinilai perlu perhatian bersama karena kelestarian lingkungan menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan kawasan wisata tersebut.
Gerakan Serupa Akan Menyasar DPD Kabupaten dan Kota
Setelah Malino, IAS berencana mendorong gerakan penanaman pohon serupa di sejumlah DPD Partai Golkar kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. Langkah itu diharapkan menggerakkan kader di berbagai daerah agar tidak hanya berkontribusi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
"Kita juga akan mendorong kader-kader Partai Golkar di daerah untuk melakukan penanaman pohon. Kepedulian kader Golkar bukan hanya untuk orang-orang di sekitar, tetapi juga untuk lingkungan sekitar," jelasnya.
Melalui gerakan penanaman pohon ini, Golkar Sulsel berharap kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan di seluruh daerah. Penanaman di Malino menjadi titik awal sebelum gerakan yang sama menyebar ke kabupaten dan kota lain di Sulawesi Selatan.