Naskah Bo' Sangaji Kai Kesultanan Bima Diakui UNESCO, Rekam Letusan Tambora 1815

Penulis: Ikhsan Maulana  •  Jumat, 06 November 2026 | 13:24:01 WIB
Naskah Bo' Sangaji Kai milik Kesultanan Bima resmi masuk Register Regional Memory of the World Asia-Pasifik UNESCO.

SULAWESI SELATAN — Naskah Bo' Sangaji Kai milik Kesultanan Bima di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, resmi masuk Register Regional Memory of the World Asia-Pasifik (MoWCAP) UNESCO. Kronik abad ke-17 hingga ke-19 itu menyimpan kesaksian langsung letusan Gunung Tambora 1815 dari perspektif masyarakat setempat. Pengakuan ini memperkuat jalur wisata edukasi sejarah Bima dan Tambora.

Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan menyebut Bo' Sangaji Kai sebagai catatan penting Kesultanan Bima yang merekam berbagai peristiwa sejarah dalam rentang abad ke-17 hingga abad ke-19. Naskah itu memuat pengetahuan soal pemerintahan, hubungan antarkerajaan, diplomasi, perdagangan, dan kehidupan sosial masyarakat.

Nilai paling menonjol ada pada kesaksian letusan Gunung Tambora tahun 1815. Lewat kronik ini, peneliti bisa membaca bagaimana warga Bima menyaksikan peristiwa yang kemudian mengubah iklim dalam skala global.

Apa Isi Naskah Bo' Sangaji Kai

Bo' Sangaji Kai bukan sekadar catatan istana. Naskah ini memperlihatkan jaringan Bima dengan kerajaan lain dan jalur perdagangan di Asia Tenggara.

Di dalamnya juga tersimpan catatan tentang penguasa perempuan serta perlindungan hukum bagi perempuan. Tiga abad rekaman sejarah dan budaya membuat naskah ini jadi sumber primer untuk kajian sosial, politik, hukum, dan kebudayaan.

"Melalui naskah itu, sejarah NTB dapat dipelajari sebagai bagian dari hubungan antarmasyarakat dan perkembangan pengetahuan yang melampaui batas wilayah," kata Ihwan dalam pernyataan di Mataram, Jumat.

Siapa yang Mengusulkan ke UNESCO

Pengajuan Bo' Sangaji Kai ke MoWCAP melibatkan kerja lintas lembaga. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Yayasan Museum Sampa Radja, dan Pemerintah Provinsi NTB berkolaborasi membawa koleksi daerah ini ke proses penilaian internasional.

Ihwan menegaskan upaya membawa warisan daerah ke forum internasional memang menuntut kerja sama semacam itu. Pengakuan UNESCO disebutnya memperluas perhatian terhadap nilai sejarah dan budaya Kesultanan Bima.

Dampak bagi Wisata Edukasi NTB

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyoroti peluang jejaring yang terbuka setelah penetapan MoWCAP. NTB bisa memperluas kerja sama dengan perpustakaan, museum, pusat kajian, dan perguruan tinggi di kawasan Asia-Pasifik.

Pengakuan internasional ini juga memperkuat pengembangan wisata edukasi yang menghubungkan Museum Sampa Radja, sejarah Kesultanan Bima, dan pengetahuan mengenai Gunung Tambora. Bagi traveler yang tertarik wisata sejarah, jalur ini menawarkan pengalaman menelusuri arsip dan koleksi museum di Bima.

"Dari Bima, warisan pengetahuan Bo' Sangaji Kai menjangkau masyarakat yang lebih luas dan membawa pesan bahwa NTB memiliki akar sejarah serta tradisi intelektual yang bernilai bagi Indonesia dan dunia," ujar Iqbal, mantan Duta Besar Indonesia untuk Turki.

Tips Berkunjung ke Bima dan Museum Sampa Radja

  • Kunjungi Museum Sampa Radja di Bima untuk melihat koleksi terkait Kesultanan Bima; konfirmasi jam operasional ke Dinas Kebudayaan NTB sebelum berangkat.
  • Padukan perjalanan dengan wisata Tambora di Pulau Sumbawa bila ingin memahami konteks letusan 1815 secara utuh.
  • Untuk riset atau kunjungan edukasi, hubungi pengelola museum lebih dulu agar bisa diarahkan ke koleksi naskah dan arsip yang relevan.
  • Informasi tarif masuk dan jadwal terkini dapat dikonfirmasi via Dinas Kebudayaan NTB setempat.

Dinas Kebudayaan NTB berharap pengakuan UNESCO menumbuhkan kebanggaan masyarakat dan mendorong generasi muda mengenali serta merawat sejarah daerah. Bagi wisatawan, penetapan ini jadi alasan kuat menjadikan Bima dan kawasan Tambora sebagai tujuan wisata edukasi berikutnya.

Reporter: Ikhsan Maulana
Sumber: jatim.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top