SULAWESI SELATAN — Generasi muda Bali dinilai punya peran strategis menjaga budaya dan tata krama di tengah pariwisata yang semakin terbuka. Lewat media sosial, mereka bisa mengedukasi wisatawan soal norma dan nilai kesucian tempat-tempat di Pulau Dewata. Peran ini semakin relevan karena kesenjangan pemahaman budaya antara wisatawan dan warga lokal masih terjadi.
Diskusi bertajuk SPADA yang digelar RRI Pro 2 Singaraja menjadi ruang bagi dua mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) untuk membahas persoalan tersebut. Putri Monica Iswarini dan Ayu Candra Purwaningsih, keduanya dari Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma Yowana Brahma Vidya (KMHD YBV), menyoroti pentingnya keterlibatan anak muda dalam pelestarian budaya.
Menurut Putri, anak muda hari ini punya akses luas untuk menyampaikan informasi soal budaya Bali melalui berbagai platform digital. Akses itu bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan nilai adat, tata krama di tempat suci, hingga pentingnya menjaga lingkungan kepada khalayak yang lebih luas.
Mengapa Peran Generasi Muda Makin Penting
Pariwisata Bali yang semakin terbuka membawa konsekuensi tersendiri. Wisatawan yang datang belum tentu memahami norma dan nilai kesucian yang berlaku di suatu tempat. Dalam sejumlah kondisi, ketidaktahuan itu berujung pada perilaku yang dianggap tidak pantas, baik di tempat suci maupun di lingkungan masyarakat.
Di titik inilah edukasi berperan. Putri menilai pendekatan yang dekat dengan generasi muda membuat pesan pelestarian budaya tidak terasa kaku. "Anak muda bisa menjadi agen perubahan dengan menggunakan media sosial untuk mengedukasi masyarakat tentang budaya dan tata krama Bali," ujarnya.
Cara Anak Muda Bisa Terlibat
- Membuat konten digital yang memperkenalkan nilai adat dan tata krama di tempat suci.
- Mengedukasi masyarakat soal alasan di balik aturan dan tradisi yang berlaku di Bali.
- Menjadi contoh nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menghormati aturan adat.
- Menyampaikan informasi soal pentingnya menjaga lingkungan kepada khalayak luas.
Edukasi lewat media sosial bukan satu-satunya jalur. Generasi muda juga diharapkan memberi contoh langsung dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga tata krama saat berada di tempat suci, mematuhi aturan adat, dan merawat kebersihan lingkungan adalah bentuk paling sederhana yang bisa dilakukan.
Sikap itu kemudian diperkuat lewat konten digital yang menjelaskan alasan di balik tradisi yang berlaku. "Generasi muda tidak hanya perlu berbicara tentang budaya, tetapi juga menjadi contoh dalam menjaga kesucian dan keindahan Bali," kata Ayu.
Dukungan Pemerintah dan Pelaku Wisata
Upaya menjaga budaya di tengah perkembangan pariwisata tidak bisa dibebankan ke generasi muda saja. Dibutuhkan dukungan pemerintah dan pelaku wisata agar edukasi berjalan menyeluruh.
Edukasi bagi wisatawan bisa dimulai sejak kedatangan, lewat bandara, hotel, maupun pemandu wisata. Papan informasi di kawasan wisata dan tempat suci juga berfungsi sebagai pengingat aturan yang harus dipatuhi. Ketegasan terhadap pelanggaran diperlukan agar aturan diterapkan secara konsisten.
Kolaborasi lintas pihak itulah yang menjaga keterbukaan pariwisata Bali tetap berjalan seiring penghormatan terhadap adat, budaya, dan nilai kesucian masyarakat setempat.
Bagi wisatawan yang berencana berkunjung ke Bali, memahami norma lokal sebaiknya dilakukan sebelum berangkat. Informasi soal aturan di tempat suci umumnya tersedia di kanal resmi dinas pariwisata setempat dan bisa dikonfirmasi langsung sebelum kunjungan.