SULAWESI SELATAN — Kementerian Komunikasi dan Digital menjajaki kerja sama teknologi satelit dan kecerdasan buatan dengan pemerintah Rusia melalui panggilan telepon pada Rabu (23/9). Delegasi Rusia memaparkan akses jaringan 98 satelit dan peluncuran sekitar 16 satelit per tahun sebagai bagian dari tawaran kemitraan strategis. Penjajakan ini menyasar penguatan infrastruktur digital, riset, dan pengembangan talenta di Indonesia.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo memimpin pembicaraan dengan perwakilan Administrasi Presiden Federasi Rusia, Inal Ardzinba, yang menjabat Head of the Department for Coordination of Strategic Initiatives, Directorate for Strategic Partnership and Cooperation. Pertemuan virtual itu membahas peluang pemanfaatan teknologi satelit dan AI untuk mendukung agenda transformasi digital nasional.
Delegasi Rusia memaparkan sejumlah opsi teknis, mulai dari akses data satelit, penyediaan sistem administrasi, hingga perangkat penerima yang bisa dioperasikan di Indonesia. Jaringan yang ditawarkan mencakup 98 satelit aktif dengan kapasitas produksi sekitar 16 satelit baru setiap tahun.
Peluang Kemitraan dengan Perusahaan Satelit Nasional
Angga menyatakan delegasi Rusia dapat menggandeng perusahaan satelit dalam negeri, termasuk badan usaha milik negara, sebagai mitra pelaksana. Skema kemitraan semacam ini membuka jalur transfer teknologi sekaligus memperkuat rantai pasok industri satelit lokal.
"Anda juga dapat melakukan kerja sama dengan perusahaan satelit Indonesia, termasuk BUMN," kata Angga dalam keterangan resminya, Kamis (24/9).
Pembahasan tidak berhenti pada aspek infrastruktur. Kedua pihak juga menyinggung penguatan kapasitas sumber daya manusia dan riset teknologi, termasuk rencana pembangunan laboratorium di Indonesia.
Program Pendidikan dan Laboratorium Satelit
Delegasi Rusia menawarkan program pendidikan yang memungkinkan mahasiswa Indonesia mempelajari sekaligus mengoperasikan satelit secara langsung. Laboratorium yang direncanakan akan menjadi fasilitas praktik bagi talenta digital muda.
"Untuk satelit dan komunikasi, kita memiliki beberapa lembaga untuk penelitian dan inovasi teknologi," tutur Angga.
Pemerataan infrastruktur digital disebut Angga sebagai faktor terpenting dalam transformasi digital Indonesia. Pemerintah, menurutnya, ingin membangun infrastruktur yang adil untuk seluruh masyarakat di negara kepulauan yang luas.
"Visi kami untuk membangun transformasi digital juga demikian. Kami ingin membangun infrastruktur digital yang adil untuk semua orang. Indonesia adalah negara yang sangat besar," kata Angga.
AI untuk Pendidikan dan Literasi Digital
Selain satelit, kecerdasan buatan masuk dalam agenda pembicaraan sebagai bagian dari transformasi digital. Pemanfaatan AI diarahkan untuk sektor pendidikan dan penguatan literasi digital masyarakat.
Angga menekankan teknologi AI tidak hanya penting bagi siswa, tetapi juga bagi masyarakat umum. Menurutnya, literasi digital harus benar-benar menyentuh pemahaman masyarakat, bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat.
"Kalau kita berbicara tentang literasi digital, saya ingin sesuatu yang benar-benar diarahkan kepada masyarakat. Jadi masyarakat bukan hanya mengetahui cara menggunakan teknologi," ungkapnya.
Langkah Awal Menuju Kerja Sama Konkret
Pembicaraan satelit dan AI ini berstatus pijakan awal untuk mengidentifikasi bidang kerja sama yang relevan bagi kedua negara. Belum ada kesepakatan formal, nilai investasi, atau jadwal implementasi yang diumumkan dalam pertemuan tersebut.
Hasil penjajakan dapat ditindaklanjuti ke arah pengembangan teknologi satelit, AI, riset dan inovasi, serta pengembangan talenta digital sesuai kebutuhan Indonesia dan Rusia. Bagi pelaku industri dalam negeri, sinyal ini membuka peluang kemitraan di sektor kedirgantaraan dan kecerdasan buatan yang selama ini didominasi pemain Barat dan China.