SULAWESI SELATAN — Dony Oskaria menegaskan bahwa narasi BUMN rugi besar adalah keliru. Dalam keterangan yang diterima pekan lalu, ia memaparkan bahwa secara konsolidasi, BUMN justru mencatat laba Rp 335 triliun pada 2025. Kerugian hanya terjadi pada sebagian kecil entitas, dengan total minus Rp 20 triliun.
"Itu bohong kalau bilang BUMN secara konsolidasi rugi. Yang rugi itu hanya Rp 20 triliun," ujar Dony.
Ia optimistis laba bisa dinaikkan jika perusahaan-perusahaan bermasalah dibenahi. "Kalau yang rugi ini kita tutup, untung kita menjadi Rp 355 triliun. Tapi untungnya memang belum maksimal," tambahnya.
Danantara Jadi Motor Transformasi BUMN
Presiden Prabowo Subianto menaruh harapan besar pada Danantara untuk memperkuat kapasitas dan nilai ekonomi BUMN. Targetnya, kontribusi tahunan ke negara bisa ditingkatkan dari Rp 600-700 triliun menjadi Rp 800 triliun.
Sejumlah langkah strategis tengah dijalankan. Pertama, konsolidasi dan perampingan jumlah entitas usaha agar lebih efisien. Kedua, penyusunan peta jalan baru untuk membangun keunggulan kompetitif masing-masing perusahaan. Ketiga, standarisasi sumber daya manusia dengan menerapkan asesmen kompetensi dasar bagi calon direksi.
BUMN Sebagai Pilar Ekonomi Nasional
Dony menekankan bahwa transformasi ini adalah upaya fundamental untuk memperkuat tata kelola dan efisiensi. Dengan fondasi yang lebih baik, BUMN diharapkan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju negara maju.
"Saya ingin meninggalkan BUMN dalam keadaan yang bagus. Tidak perlu saya yang dikenang, tetapi paling tidak Danantara berhasil mewujudkan mimpi dan harapan banyak rakyat Indonesia," pungkasnya.
Kontribusi BUMN yang mencapai ratusan triliun setiap tahun menunjukkan peran vital perusahaan negara dalam menopang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Transformasi yang digagas Danantara diharapkan tidak hanya meningkatkan laba, tetapi juga memperkuat daya saing di tengah tekanan ekonomi global.