SOPPENG — Konsolidasi kader Partai Golkar Dapil II Sulawesi Selatan di Kabupaten Soppeng, Senin (18/5/2026), berlangsung lebih megah dari agenda partai biasanya. Dekorasi panggung yang elegan dan kehadiran tokoh penting dari sembilan daerah membuat acara itu disebut-sebut sebagai pemanasan menuju Musyawarah Daerah (Musda). Nuansa politik tingkat tinggi terasa sejak awal.
Namun di tengah riuhnya spekulasi dan pujian yang mengarah padanya, Dr. Supriansa justru tampil dengan nada berbeda. Mantan anggota DPR RI periode 2019–2024 itu merespons dengan kalimat sederhana yang langsung menyebar di antara kader yang hadir.
“Apalah saya ini. Datang tak menambah, tak datang tak mengurangi,” ujarnya sambil tersenyum.
Pesan Politik di Balik Kerendahan Hati Seorang Kader Senior
Dalam bahasa politik, pernyataan semacam itu kerap disebut komunikasi simbolik. Alih-alih menunjukkan ambisi atau manuver, Supriansa justru memperlihatkan citra kader loyal yang tidak ingin menempatkan dirinya di atas partai. “Sebagai kader partai sudah semestinya begitu,” lanjutnya.
Sikap ini dinilai menarik karena muncul di tengah dinamika politik Golkar Sulsel yang mulai memanas menjelang agenda-agenda penting partai. Ia sama sekali tidak menyinggung soal jabatan, posisi, atau peluang politik. Justru yang paling banyak ia soroti adalah rasa terima kasih kepada Partai Golkar.
“Saya ini pernah diantar Golkar menjadi anggota DPR RI. Itu tidak bisa saya lupakan,” katanya.
Loyalitas Tak Berakhir Saat Kekuasaan Habis
Menurut Supriansa, menjadi kader partai bukan hanya hadir saat ingin mendapatkan posisi. Hal yang tak kalah penting adalah menjaga hubungan dan loyalitas ketika tidak lagi memegang kekuasaan. “Masa partai pernah membantu lalu saya melupakan begitu saja. Itu tidak boleh,” tegasnya.
Dalam konsolidasi tersebut, ia juga beberapa kali menyinggung pentingnya kekompakan kader. Partai besar, kata dia, tidak dibangun oleh satu figur saja. Pernyataan itu muncul sebagai pengingat di tengah hiruk-pikuk politik yang kerap mengedepankan ego personal.
Konsolidasi di Soppeng ini menjadi salah satu rangkaian yang dipantau ketat oleh pengamat politik daerah. Sikap Supriansa yang memilih merendah justru dinilai sebagai bentuk kecerdasan politik yang jarang ditemukan di tengah budaya saling klaim dalam tubuh partai.