SULAWESI SELATAN — Gagasan ini disampaikan Hamid Paddu, Ketua Dewan Pakar MKPD CIDES ICMI Sulawesi Selatan. Ia mengkritik model pembangunan daerah yang terlalu bertumpu pada proyek dan anggaran jangka pendek, namun minim ruang bagi riset dan pemikiran strategis.
Mengapa Riset dan Kebijakan Sering Berjalan Sendiri-Sendiri?
Hamid Paddu melihat pengetahuan tumbuh subur di kampus, tetapi gagal menjelma menjadi keputusan publik. Para ahli berjalan di jalurnya masing-masing, sementara pengambil keputusan bekerja tanpa dukungan analisis yang memadai.
"Akibatnya, banyak kebijakan lahir secara reaktif, mengikuti siklus politik jangka pendek, tanpa basis pengetahuan yang kuat," demikian pernyataan yang dikutip dari rilis yang dibagikan Ahmad Sulaiman Kambie di Tribun Timur.
Gagasan 'Mesin Gagasan' untuk Sulsel
Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, Hamid Paddu mengajukan gagasan mendasar: daerah harus memiliki "mesin gagasan". Seperti industri membutuhkan pabrik, pembangunan membutuhkan institusi yang secara konsisten memproduksi ide, kajian, dan rekomendasi kebijakan.
Di negara maju, fungsi ini dijalankan oleh lembaga think tank. Mereka tidak membangun jalan atau bendungan secara langsung, tetapi memastikan infrastruktur yang dibangun memberikan dampak ekonomi dan sosial yang optimal.
Potensi Besar yang Butuh Peta Jalan Berbasis Data
Kebutuhan akan think tank di Sulawesi Selatan semakin mendesak. Daerah ini memiliki potensi besar yang belum terkelola secara strategis: hilirisasi nikel, pengembangan industri kakao, optimalisasi rumput laut, modernisasi perikanan, hingga penguatan posisi Makassar sebagai hub logistik Indonesia Timur.
Semua itu, menurut Hamid Paddu, membutuhkan peta jalan yang disusun berdasarkan data, riset, dan proyeksi masa depan. Tanpa itu, potensi hanya akan menjadi daftar panjang peluang yang tidak pernah terwujud.
Peringatan soal Ekonomi Berbasis Pengetahuan
Pemikiran Hamid Paddu juga menyoroti perubahan lanskap ekonomi global. Pada masa lalu, kekayaan daerah diukur dari banyaknya sumber daya alam. Namun saat ini, dunia bergerak ke arah ekonomi berbasis pengetahuan.
Dalam ekonomi modern, ide dan inovasi menjadi sumber daya yang jauh lebih bernilai dibandingkan komoditas mentah. Nikel dan gas bisa habis, tetapi pengetahuan adalah satu-satunya sumber daya yang terus bertumbuh ketika digunakan dan dibagikan. Daerah yang mampu mengelola kecerdasan kolektifnya akan memiliki peluang lebih besar untuk maju.